
Momuung.co.id – Bayi gumoh setelah menyusu adalah hal yang sangat sering terjadi, terutama pada bayi baru lahir. Namun, tidak sedikit Mommy yang langsung khawatir ketika gumoh terjadi berulang, takut si Kecil mengalami gangguan pencernaan seperti GERD.
Tenang dulu ya, Mom. Pada banyak bayi, gumoh sebenarnya merupakan kondisi yang normal karena sistem pencernaan mereka masih dalam tahap berkembang. Namun pada beberapa kasus, gumoh juga bisa menjadi tanda refluks yang lebih serius atau GERD jika disertai gejala tertentu.
Agar Mommy tidak panik berlebihan tetapi tetap waspada, penting untuk memahami perbedaan antara gumoh yang masih normal dan gumoh yang perlu diperiksakan ke dokter. Yuk, kita bahas bersama. Buibu, simak sampai selesai ya!
Gumoh terjadi ketika sebagian susu yang sudah masuk ke lambung bayi naik kembali ke kerongkongan dan keluar melalui mulut. Hal ini cukup umum terjadi karena katup antara lambung dan kerongkongan bayi masih belum berkembang sempurna.
Menurut American Academy of Pediatrics, kondisi ini dikenal sebagai gastroesophageal reflux (GER) dan sering dialami bayi sehat, terutama pada usia beberapa bulan pertama.
Beberapa hal yang dapat memicu Gumoh pada bayi antara lain:
Gumoh yang masih normal biasanya memiliki ciri-ciri berikut:
Bayi dengan kondisi ini sering disebut sebagai “happy spitter”, yaitu bayi yang sering gumoh tetapi tetap sehat dan aktif.
Berbeda dengan gumoh biasa, GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) terjadi ketika refluks menyebabkan bayi merasa tidak nyaman atau memengaruhi pertumbuhannya.
Menurut Mayo Clinic, beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
Jika Mommy melihat beberapa tanda tersebut muncul secara terus-menerus, sebaiknya konsultasikan dengan dokter spesialis anak untuk evaluasi lebih lanjut.
Jika bayi sering gumoh setelah menyusu, Mommy bisa mencoba beberapa cara sederhana berikut untuk membantu membuat si Kecil lebih nyaman.
1. Sendawakan bayi setelah menyusu
Gendong bayi dalam posisi tegak di bahu atau dudukkan di pangkuan sambil menopang kepala dan dagunya. Tepuk punggungnya dengan lembut untuk membantu mengeluarkan udara yang tertelan saat menyusu.
2. Mengatur aliran ASI yang terlalu deras

Posisi setengah berbaring 45 derajat dengan bayi tengkurap di atas dada, dengan perut bayi menempel pada perut ibu. Posisi ini dapat membantu memperlambat aliran ASI. Posisi ini juga membuat bayi lebih mudah mengatur ritme menelan dan bernapas, sehingga udara yang masuk ke perut bisa diminimalkan.

Scissor hold adalah cara memegang payudara dengan membentuk huruf V menggunakan jari telunjuk di atas dan jari tengah di bawah, dengan posisi jari sedikit menjauh dari areola. Teknik ini membantu mengarahkan puting agar bayi bisa latch lebih dalam dan nyaman.
Teknik ini juga bermanfaat untuk mengontrol aliran ASI. Jika bayi sering tersedak saat menyusu, scissor hold bisa membantu memperlambat aliran susu sehingga proses menyusu terasa lebih tenang dan nyaman untuk si Kecil (Altuntaş & Ünsal, 2019).
3. Pastikan pelekatan sudah tepat
Perhatikan posisi mulut bayi saat menyusu. Sebagian besar area gelap bagian bawah di sekitar puting sebaiknya masuk ke dalam mulut, mulut terbuka lebar, bibir bawah terlipat keluar dan dagu menempel pada payudara. Pelekatan yang baik membantu bayi menyusu lebih efektif tanpa banyak menelan udara.

Gumoh pada bayi adalah kondisi yang sangat umum terjadi, terutama pada bulan-bulan awal kehidupan. Dalam banyak kasus, gumoh merupakan bagian normal dari perkembangan sistem pencernaan bayi dan biasanya akan berkurang seiring bertambahnya usia.
Namun, Mommy tetap perlu memperhatikan jika gumoh terjadi sangat sering dan disertai tanda ketidaknyamanan, seperti bayi tampak kesakitan, menolak menyusu, atau berat badan sulit naik. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda GERD dan sebaiknya diperiksakan ke dokter.
Dengan memahami perbedaan antara gumoh normal dan gejala GERD, Mommy bisa lebih tenang dalam merawat si Kecil sekaligus memastikan tumbuh kembangnya tetap optimal.
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.
Mommy bisa memposisikan bayi tegak (sendawa) minimal 15-20 menit setelah menyusu, menggunakan teknik scissor hold untuk kontrol aliran ASI, dan memastikan pelekatan sudah tepat.