Bayi Sering Mengejan Saat BAB? Kenali Baby Grunting Syndrome

Momuung.com – Pernah melihat Si Kecil mengejan saat BAB hingga wajahnya memerah, kaki terangkat, dan terdengar seperti kesakitan? Tenang ya, Mommy. Kondisi ini belum tentu menandakan bayi sembelit. Pada bayi usia di bawah 6 bulan, hal tersebut bisa menjadi tanda Baby grunting syndrome atau Infant dyschezia, yaitu kondisi yang umum terjadi karena bayi masih belajar mengoordinasikan otot untuk BAB.
Yuk, kenali penyebab, ciri-ciri, dan cara mengatasinya agar Mommy tidak perlu khawatir.
DAFTAR ISI
Apa Itu Baby Grunting Syndrome (Infant Dyschezia)?
Baby grunting syndrome atau infant dyschezia adalah kondisi ketika bayi yang sehat tampak mengejan, mengerang (grunting), menangis, atau wajahnya memerah selama sekitar 10 menit atau lebih sebelum akhirnya berhasil mengeluarkan feses yang lunak. Kondisi ini paling sering dialami oleh bayi berusia kurang dari 9 bulan dan bukan merupakan tanda sembelit maupun gangguan pada saluran pencernaan (Rome Foundation, n.d.; Kadim et al., 2023).
Meski sering membuat orang tua khawatir, baby grunting syndrome umumnya merupakan kondisi yang normal dan akan membaik dengan sendirinya seiring bertambahnya usia bayi. Karena gejalanya sering disalahartikan sebagai sembelit, penting bagi Mommy untuk mengenali ciri-ciri dan fakta mengenai kondisi ini agar tidak panik maupun memberikan penanganan yang kurang tepat.
Supaya Mommy bisa mengenali kondisi ini dengan lebih baik, berikut beberapa fakta penting yang perlu diketahui.
1. Bayi Masih Belajar Mengoordinasikan Otot Saat BAB
Pada bayi usia di bawah 6 bulan, sistem saraf dan koordinasi otot yang digunakan untuk BAB belum berkembang sempurna.
Saat ingin BAB, bayi perlu mengencangkan otot perut sambil melemaskan otot dasar panggul dan anus secara bersamaan (Kadim et al., 2023). Namun, kemampuan koordinasi ini masih dalam tahap belajar. Akibatnya, Si Kecil sering:
- mengejan cukup lama,
- mengerang atau grunting,
- wajah tampak memerah,
- bahkan menangis sebelum akhirnya berhasil mengeluarkan feses atau kentut.
2. Bayi ASI Eksklusif yang Jarang BAB Belum Tentu Mengalami Sembelit
Banyak orang tua mengira bayi yang tidak BAB selama beberapa hari pasti mengalami sembelit. Padahal, hal tersebut belum tentu benar, terutama pada bayi yang mendapat ASI eksklusif.
Frekuensi BAB bayi ASI memang bisa sangat bervariasi. Ada bayi yang BAB beberapa kali dalam sehari, tetapi ada juga yang baru BAB setiap beberapa hari sekali. Kondisi ini terjadi karena ASI merupakan makanan yang sangat mudah dicerna dan diserap oleh tubuh bayi, sehingga hanya sedikit sisa pencernaan yang perlu dikeluarkan sebagai feses (American Academy of Pediatrics, 2024).
Karena itu, jangan hanya melihat seberapa sering Si Kecil BAB. Mommy juga perlu memperhatikan kondisi bayi secara keseluruhan. Selama:
- berat badan Si Kecil bertambah sesuai usianya,
- si kecil tetap aktif menyusu dengan baik,
- tidak tampak lemas atau kesakitan, dan
- feses yang keluar tetap bertekstur lunak atau seperti pasta,
maka kondisi tersebut umumnya masih termasuk normal dan tidak mengarah pada sembelit. Sebaliknya, jika feses yang keluar keras, berbentuk bulatan kecil, atau bayi tampak sangat kesakitan setiap kali BAB, kondisi tersebut perlu dievaluasi lebih lanjut karena dapat mengarah pada konstipasi.
Salah satu tanda bahwa Si Kecil mendapatkan asupan ASI yang cukup adalah berat badannya terus bertambah sesuai usianya. Jika Mommy masih ragu apakah kenaikan berat badan Si Kecil sudah sesuai dengan standar, yuk baca artikel “5 Panduan Kenaikan Berat Badan Bayi Sesuai Buku KIA” agar Mommy lebih mudah memantau tumbuh kembang Si Kecil di rumah.
3. Tekstur Feses Lebih Penting daripada Frekuensi BAB
Cara paling mudah membedakan infant dyschezia dengan sembelit adalah dengan memperhatikan tekstur feses yang keluar, bukan seberapa kuat Si Kecil mengejan (Tabbers et al., 2014).
Pada infant dyschezia, meski bayi tampak kesulitan saat BAB, feses yang keluar tetap lunak, lembek, atau seperti pasta. Hal ini menunjukkan bahwa bayi sebenarnya tidak mengalami sembelit, melainkan masih belajar mengoordinasikan otot perut dan dasar panggul saat buang air besar.
Sebaliknya, pada konstipasi (sembelit), feses biasanya keras, kering, berbentuk bulatan kecil seperti kotoran kambing, atau sangat padat sehingga sulit dikeluarkan. Kondisi ini dapat membuat bayi merasa tidak nyaman, bahkan menimbulkan rasa nyeri saat BAB.
Dengan kata lain, jika feses Si Kecil masih lunak meski ia harus mengejan cukup lama, kemungkinan besar kondisi tersebut bukan sembelit, melainkan infant dyschezia. Namun, bila feses mulai keras atau disertai darah, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter agar penyebabnya dapat diketahui lebih lanjut.
4. Menangis dan Mengerang Membantu Bayi Meningkatkan Tekanan di Perut
Menangis saat akan BAB tidak selalu berarti bayi merasa kesakitan.
Pada usia beberapa bulan pertama, menangis dan mengerang merupakan salah satu cara alami bayi meningkatkan tekanan di dalam rongga perut (intra-abdominal pressure). Tekanan inilah yang membantu mendorong feses keluar ketika koordinasi otot BAB belum sepenuhnya matang.
Karena itu, selama bayi tetap sehat dan feses yang keluar normal, Mommy tidak perlu langsung menganggap tangisan tersebut sebagai tanda adanya gangguan pencernaan.
5. Kondisi Ini Akan Membaik dengan Sendirinya
Kabar baiknya, infant dyschezia bersifat sementara.
Seiring bertambahnya usia, sistem saraf, otot dasar panggul, dan kemampuan koordinasi BAB bayi akan berkembang semakin baik. Akibatnya, bayi akan lebih mudah BAB tanpa perlu mengejan terlalu lama atau menangis terlebih dahulu.
Sebagian besar kasus membaik dengan sendirinya dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan pertama kehidupan dan tidak memerlukan obat pencahar, stimulasi anus, maupun tindakan medis khusus.
3 Cara Membantu Mempermudah Bayi Mengejan dengan Nyaman
Tidak perlu buru-buru panik, Mom. Ada beberapa stimulasi ringan yang bisa Mommy lakukan di rumah untuk membantu Si Kecil merasa lebih nyaman saat sedang mengejan.
1. Gerakan seperti Mengayuh Sepeda (Bicycle Legs)
Salah satu cara sederhana yang bisa dicoba adalah menggerakkan kedua kaki bayi seperti sedang mengayuh sepeda. Gerakan ini membantu tubuh bayi bergerak lebih aktif sekaligus dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman akibat gas yang terperangkap di dalam perut.
Cara melakukannya:
- Baringkan Si Kecil dalam posisi telentang di tempat yang aman.
- Pegang kedua pergelangan kakinya dengan lembut.
- Gerakkan kedua kaki secara bergantian seperti mengayuh sepeda selama sekitar 1-2 menit.
- Hentikan jika bayi terlihat tidak nyaman atau mulai menangis.
2. Pijat Perut dengan Teknik I Love You (ILU)
Sentuhan lembut dari Mommy juga dapat membantu menenangkan Si Kecil yang sedang gelisah. Salah satu cara yang bisa dicoba adalah memijat perut bayi menggunakan gerakan perlahan mengikuti arah jarum jam (Kid Therapy Development Center, n.d.).
Mommy bisa melakukannya dengan langkah berikut:
- Pastikan tangan Mommy dalam keadaan bersih dan hangat.
- Gunakan sedikit calming cream bila diperlukan agar pijatan terasa lebih nyaman di kulit bayi.
- Usap perut Si Kecil secara perlahan dengan gerakan memutar searah jarum jam selama sekitar 3-5 menit.
- Jika Mommy sudah terbiasa melakukan pijat bayi, teknik I Love You (ILU) massage juga bisa menjadi pilihan.
Pijat ILU dapat dilakukan sekitar 2-3 kali sehari, terutama saat Si Kecil tampak gelisah, sulit BAB, atau di sela-sela waktu ketika bayi sedang tenang. Sebaiknya hindari memijat tepat setelah bayi menyusu agar tidak memicu gumoh atau membuatnya merasa tidak nyaman.
Meski belum terbukti secara khusus dapat mengatasi infant dyschezia, pijatan lembut ini dapat membantu bayi merasa lebih rileks, mengurangi ketegangan pada area perut, sekaligus menjadi momen bonding yang menyenangkan antara Mommy dan Si Kecil.
3. Ajak Si Kecil Rutin Melakukan Tummy Time
Selain baik untuk perkembangan motorik, tummy time juga membantu bayi lebih aktif bergerak. Gerakan tubuh saat tengkurap dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman akibat penumpukan gas di saluran cerna (Children’s Hospital Colorado, 2026).
Agar tetap aman, lakukan tummy time dengan memperhatikan beberapa hal berikut.
- Lakukan hanya saat bayi dalam keadaan terjaga.
- Selalu dampingi dan awasi Si Kecil selama tummy time.
- Mulailah selama 1-2 menit, lalu tingkatkan durasinya secara bertahap menjadi 3-5 menit atau sesuaikan dengan kemampuan bayi.
American Academy of Pediatrics merekomendasikan tummy time setiap hari karena bermanfaat untuk memperkuat otot leher, bahu, punggung, serta mendukung perkembangan motorik bayi.

Kapan Mommy Perlu Membawa Si Kecil ke Dokter?
Sebagian besar kasus infant dyschezia tidak memerlukan pengobatan khusus dan akan membaik dengan sendirinya seiring bertambahnya usia bayi. Namun, Mommy tetap perlu waspada apabila Si Kecil menunjukkan tanda-tanda berikut.
Segera konsultasikan ke dokter apabila:
- feses yang keluar keras, kering, atau berbentuk bulatan kecil secara berulang,
- terdapat darah pada feses atau muncul luka di sekitar anus,
- perut bayi tampak sangat kembung, keras, atau membesar,
- bayi muntah berwarna hijau (bilious vomiting),
- bayi mengalami demam, tampak sangat lemas, atau sulit dibangunkan,
- nafsu menyusu menurun sehingga jumlah pipis berkurang atau berat badan tidak bertambah,
- bayi belum mengeluarkan mekonium dalam 48 jam pertama setelah lahir, atau mengalami konstipasi sejak lahir sehingga perlu dievaluasi lebih lanjut (Tabbers et al., 2023).
Apabila salah satu tanda tersebut muncul, jangan menunda untuk membawa Si Kecil ke dokter spesialis anak agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.
Kesimpulan
Melihat Si Kecil mengejan hingga wajahnya memerah memang sering membuat Mommy khawatir. Namun, pada banyak kasus, kondisi ini merupakan bagian dari Baby Grunting Syndrome (infant dyschezia) yang umumnya normal dan akan membaik dengan sendirinya seiring matangnya koordinasi otot yang digunakan saat BAB.
Selama feses yang keluar tetap lunak, berat badan Si Kecil bertambah sesuai usianya, dan ia tetap aktif menyusu, Mommy umumnya tidak perlu terlalu cemas. Untuk membantu Si Kecil merasa lebih nyaman, Mommy dapat melakukan stimulasi sederhana seperti pijat perut dengan lembut, gerakan bicycle legs, atau tummy time sesuai usianya.
Namun, jika Si Kecil mengalami tanda-tanda seperti feses yang keras, BAB disertai darah, perut sangat kembung, muntah hijau, demam, atau nafsu menyusu menurun, segera konsultasikan ke dokter spesialis anak agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.
Apabila Mommy masih memiliki pertanyaan seputar BAB bayi, menyusui, tumbuh kembang, atau perawatan Si Kecil, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Konselor Menyusui Mom Uung. Bersama konselor yang berpengalaman, Mommy akan mendapatkan pendampingan dan edukasi yang sesuai dengan kebutuhan, sehingga perjalanan menyusui dan merawat Si Kecil terasa lebih tenang, nyaman, dan penuh percaya diri.
Sumber
- American Academy of Pediatrics. (2024). Pooping by the numbers: What’s normal for infants? HealthyChildren.org. https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/Pages/Pooping-By-the-Numbers.aspx
- Children’s Hospital Colorado. (2026). Baby poop guide. https://www.childrenscolorado.org/just-ask-childrens/articles/baby-poop-guide/
- Kadim, M., Putri, U. M., Gunardi, H., Wulandari, H. F., Wahidiyat, P. A., Pardede, S. O., & Indawati, W. (2023). Prevalence, Risk Factors, and Pediatrician Awareness of Infant Dyschezia in Indonesia. Pediatric gastroenterology, hepatology & nutrition, 26(2), 116–126. https://doi.org/10.5223/pghn.2023.26.2.116
- Kid Therapy Development Center. (n.d.). “Get that poo out of you!” – Part 3. https://kidtherapy.org/get-that-poo-out-of-you-part-3/
- Rome Foundation. (n.d.). Rome IV criteria. https://theromefoundation.org/rome-iv/rome-iv-criteria/
- Tabbers, M. M., DiLorenzo, C., Berger, M. Y., Faure, C., Langendam, M. W., Nurko, S., Staiano, A., Vandenplas, Y., & Benninga, M. A. (2014). Evaluation and treatment of functional constipation in infants and children: Evidence-based recommendations from ESPGHAN and NASPGHAN. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition, 58(2), 258-274. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1097/MPG.0000000000000266
Artikel Terkait
Mommin
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.









