Anak GTM Saat Lebaran? Ini Cara Cegah Picky Eating Agar BB Si Kecil Tetap Naik

Momuung.co.id – Lebaran identik dengan meja makan yang penuh hidangan lezat. Ketupat, opor ayam, rendang, hingga aneka kue kering seperti nastar dan kastengel selalu menggoda untuk dicicipi.
Namun bagi banyak orang tua, momen ini justru memunculkan kekhawatiran baru.
Anak mulai lebih sering ngemil kue daripada makan makanan utama. Ketika waktu makan tiba, si kecil justru menolak makan atau mengalami GTM (Gerakan Tutup Mulut). Bahkan setelah Lebaran, berat badan anak bisa turun karena asupan nutrisi tidak tercukupi.
Situasi ini sering membuat Mommy merasa panik. Padahal, perubahan pola makan saat hari raya memang bisa memicu picky eating jika tidak dikelola dengan baik.
Kabar baiknya, ada beberapa langkah sederhana yang bisa membantu menjaga pola makan si kecil tetap teratur selama Lebaran. Dengan strategi yang tepat, Mommy tetap bisa menikmati momen silaturahmi tanpa harus khawatir soal nutrisi anak.
Kenapa Anak Bisa Jadi Picky Eater Saat Lebaran?
Perubahan kebiasaan selama hari raya sering menjadi pemicu utama anak menolak makan. Beberapa faktor yang paling sering terjadi antara lain:
DAFTAR ISI
1. Jadwal Makan Berubah
Hari-hari Lebaran biasanya dipenuhi aktivitas berkunjung ke rumah keluarga atau menerima tamu. Jadwal makan yang sebelumnya teratur menjadi lebih fleksibel, sehingga anak bisa makan terlalu dekat dengan waktu ngemil atau justru terlalu lama tidak makan.
Ketika ritme makan berubah, nafsu makan anak juga ikut terpengaruh.
2. Terlalu Banyak Camilan Manis dan Gurih
Kue kering, cokelat, dan berbagai camilan Lebaran memiliki rasa yang kuat dan sangat menarik bagi anak.
Jika terlalu sering dikonsumsi, lidah anak bisa terbiasa dengan rasa manis dan gurih yang intens. Akibatnya, makanan utama seperti nasi dan lauk terasa kurang menarik bagi mereka.
3. Banyaknya Pilihan Makanan
Meja makan saat Lebaran biasanya dipenuhi berbagai jenis hidangan. Bagi anak kecil, terlalu banyak pilihan justru bisa membuat mereka bingung.
Akhirnya anak cenderung hanya memilih makanan yang paling familiar atau paling mereka sukai.
4. Makan dengan Banyak Distraksi
Saat suasana rumah ramai, anak sering makan sambil bermain, menonton televisi, atau berlarian bersama sepupu. Kondisi ini membuat mereka tidak fokus pada makanan sehingga asupan nutrisi menjadi kurang optimal.
Tips Agar Anak Tidak GTM Saat Lebaran
Agar pola makan si kecil tetap terjaga selama Lebaran, Mommy bisa mencoba beberapa strategi berikut.
1. Batasi Konsumsi Kue Kering
Kue Lebaran memang sulit dihindari, tetapi konsumsi yang berlebihan dapat memengaruhi nafsu makan anak.
Makanan tinggi gula dan tepung dapat membuat anak cepat kenyang sebelum makan utama. Selain itu, lonjakan gula darah juga bisa membuat anak lebih mudah rewel.
Agar tetap seimbang, Mommy dapat menerapkan aturan sederhana.
Misalnya, anak boleh menikmati 2 sampai 3 kue setelah makan utama. Cara ini membantu si kecil tetap menikmati suasana Lebaran tanpa mengganggu pola makan utama.
Mommy juga bisa menyimpan kue di tempat yang tidak terlalu mudah dijangkau agar anak tidak terus menerus ngemil.
2. Pertahankan Jadwal Makan Utama
Walaupun suasana Lebaran lebih santai, menjaga jadwal makan utama tetap penting bagi anak.
Usahakan si kecil tetap mendapatkan tiga waktu makan utama setiap hari, yaitu sarapan, makan siang, dan makan malam.
Jika Mommy berencana berkunjung ke rumah keluarga, sebaiknya anak sudah makan terlebih dahulu di rumah. Dengan begitu, anak tidak hanya mengandalkan camilan yang tersedia di rumah orang lain.
Di sela waktu makan, Mommy juga bisa memberikan camilan sehat seperti buah, telur rebus, atau susu.
3. Pastikan Nutrisi Tetap Seimbang
Agar berat badan anak tetap naik optimal, tubuh mereka membutuhkan kombinasi nutrisi yang lengkap.
Menu harian sebaiknya tetap mengandung:
- Protein dari ayam, ikan, telur, atau daging
- Lemak sehat dari alpukat, santan, atau minyak zaitun
- Vitamin dan mineral dari sayur dan buah
Beberapa nutrisi penting untuk anak usia 1 hingga 3 tahun antara lain:
- Vitamin A yang membantu pertumbuhan dan daya tahan tubuh
- Vitamin D yang mendukung kesehatan tulang
- Vitamin B kompleks yang membantu metabolisme energi
Jika anak makan dalam porsi kecil, Mommy bisa meningkatkan kepadatan energi makanan. Misalnya dengan menambahkan keju, santan, atau mentega pada menu anak.
Cara ini membantu memenuhi kebutuhan kalori tanpa harus membuat anak makan dalam jumlah besar.
4. Sajikan Menu Lebaran yang Lebih Ramah Anak
Tidak semua makanan Lebaran cocok untuk anak kecil. Beberapa hidangan mungkin terlalu berbumbu atau terlalu berminyak sehingga kurang nyaman di pencernaan mereka.
Mommy bisa menyajikan versi yang lebih sederhana, misalnya:
- Opor ayam dengan santan yang lebih ringan
- Sup ayam hangat sebagai alternatif lauk
- Rendang dengan potongan daging yang lebih empuk
Selain itu, memberi kesempatan anak untuk memilih makanan mereka sendiri juga bisa meningkatkan minat makan.
Ketika anak merasa dilibatkan, mereka biasanya lebih tertarik mencoba makanan yang tersedia.
Kesimpulan
Lebaran seharusnya menjadi momen yang menyenangkan bagi seluruh keluarga, termasuk si kecil. Dengan menjaga keseimbangan antara camilan dan makanan utama, mempertahankan jadwal makan, serta memastikan nutrisi tetap terpenuhi, Mommy dapat membantu mencegah picky eating selama hari raya.
Langkah sederhana ini tidak hanya membantu menjaga nafsu makan anak, tetapi juga memastikan berat badan dan tumbuh kembangnya tetap optimal.
Selain nutrisi anak, kebutuhan nutrisi Mommy juga tidak kalah penting, terutama bagi Mommy yang sedang menyusui. Untuk mengetahui pilihan nutrisi yang dapat membantu mendukung kebutuhan kalsium selama masa menyusui, Mommy juga bisa membaca artikel berikut tentang Rekomendasi Susu Tinggi Kalsium untuk Dukung Ibu Menyusui.
Semoga tips ini membantu Mommy menikmati momen Lebaran dengan lebih tenang, sambil memastikan si kecil tetap sehat dan ceria.
Referensi:
- Białek-Dratwa, A., & Kowalski, O. (2023). Prevalence of Feeding Problems in Children and Associated Factors-A Cross-Sectional Study among Polish Children Aged 2-7 Years. Nutrients, 15(14), 3185. https://doi.org/10.3390/nu15143185
- Cole, N. C., An, R., Lee, S.-Y., & Donovan, S. M. (2017). Correlates of picky eating and food neophobia in young children: A systematic review and meta-analysis. Nutrition Reviews, 75(7), 516-532. https://doi.org/10.1093/nutrit/nux024
- Del Campo, C., Bouzas, C., & Tur, J. A. (2024). Risk Factors and Consequences of Food Neophobia and Pickiness in Children and Adolescents: A Systematic Review. Foods (Basel, Switzerland), 14(1), 69. https://doi.org/10.3390/foods14010069
- Elisanti, A. D., Jayanti, R. D., Amareta, D. I., Ardianto, E. T., & Wikurendra, E. A. (2023). Macronutrient intake in stunted and non-stunted toddlers in Jember, Indonesia. Journal of public health research, 12(3), 22799036231197178. https://doi.org/10.1177/22799036231197178
- Hannon, T. S. (2023). Should kids with diabetes eat a low-carb diet? HealthyChildren.org. https://www.healthychildren.org/English/healthy-living/nutrition/Pages/low-carb-diets-for-children-with-diabetes-are-they-safe.aspx
Artikel Terkait
Mommin
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.









