Jangan Abaikan! 6 Kebiasaan yang Bisa Meningkatkan Risiko Preeklampsia Saat Hamil

Momuung.co.id – Preeklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang perlu diwaspadai karena dapat mempengaruhi kesehatan Mommy dan janin jika tidak terdeteksi serta ditangani dengan baik. Sayangnya, kondisi ini sering berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal, sehingga banyak ibu hamil tidak menyadari risikonya.
Karena itu, penting bagi Mommy untuk memahami faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko preeklampsia, mengenali tanda-tanda yang perlu diwaspadai, serta mengetahui langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan selama kehamilan. Yuk, simak penjelasan lengkapnya sampai akhir agar Mommy lebih siap melindungi diri dan si Kecil selama masa kehamilan. Buibu, baca selengkapnya di sini ya!
DAFTAR ISI
- Apa Itu Preeklampsia?
- Faktor Risiko Preeklampsia yang Perlu Diwaspadai
- 6 Hal yang Sebaiknya Dihindari untuk Membantu Menurunkan Risiko Preeklampsia
- Hindari Membiarkan Stres Menumpuk Terlalu Lama
- Hindari Aktivitas yang Terlalu Berat
- Batasi Makanan Tinggi Garam dan Makanan Ultra-Proses
- Perhatikan Asupan Kafein dan Cukupi Kebutuhan Cairan Harian
- Jangan Lewatkan Kontrol Kehamilan dan Konsumsi Suplemen Sesuai Anjuran
- Hindari Rokok, Alkohol, dan Penggunaan Obat Sembarangan
- Tanda Bahaya Preeklampsia yang Tidak Boleh Diabaikan
- Kesimpulan
- Sumber
Apa Itu Preeklampsia?
Preeklampsia adalah komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi yang muncul setelah usia kehamilan 20 minggu. Kondisi ini dapat mempengaruhi berbagai organ tubuh Mommy, seperti ginjal, hati, dan plasenta, yaitu organ yang berfungsi menyalurkan oksigen serta nutrisi kepada si Kecil selama di dalam kandungan (American College of Obstetricians and Gynecologists [ACOG], 2020).
Sederhananya, saat terjadi preeklampsia, aliran darah ke plasenta dapat menjadi kurang optimal. Akibatnya, plasenta tidak dapat bekerja seefektif biasanya dalam mendukung kebutuhan tumbuh kembang janin. Jika tidak terdeteksi dan ditangani dengan baik, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan janin, kelahiran prematur, hingga komplikasi serius pada ibu hamil (World Health Organization, 2022).
Karena itu, preeklampsia tidak boleh dianggap sepele ya, Mommy. Kabar baiknya, pemeriksaan kehamilan secara rutin dapat membantu dokter mendeteksi kondisi ini lebih dini sehingga penanganan yang tepat bisa segera diberikan.
Faktor Risiko Preeklampsia yang Perlu Diwaspadai
Preeklampsia dapat terjadi pada siapa saja. Namun, beberapa kondisi berikut diketahui dapat meningkatkan risikonya:
- Sedang menjalani kehamilan pertama.
- Hamil di usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
- Memiliki berat badan berlebih atau obesitas sebelum hamil.
- Mengandung bayi kembar atau lebih.
- Pernah mengalami preeklampsia pada kehamilan sebelumnya.
- Memiliki riwayat preeklampsia dalam keluarga, seperti pada ibu atau saudara perempuan.
- Memiliki tekanan darah tinggi sebelum hamil.
- Memiliki kondisi kesehatan tertentu, seperti diabetes, penyakit ginjal, atau penyakit autoimun.
Jika Mommy memiliki satu atau beberapa faktor risiko di atas, tidak berarti pasti akan mengalami preeklampsia. Namun, kondisi tersebut membuat pemantauan kehamilan menjadi lebih penting. Dengan kontrol kehamilan yang rutin, tekanan darah dan kondisi janin dapat dipantau secara berkala sehingga risiko komplikasi bisa dikenali dan ditangani lebih awal.

6 Hal yang Sebaiknya Dihindari untuk Membantu Menurunkan Risiko Preeklampsia
Ada beberapa kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari dapat mempengaruhi tekanan darah selama kehamilan. Karena itu, penting bagi Mommy untuk mengenali dan menghindarinya sejak dini agar kehamilan tetap sehat dan nyaman:
1. Hindari Membiarkan Stres Menumpuk Terlalu Lama
Menjalani kehamilan sambil mengurus pekerjaan, rumah tangga, dan berbagai persiapan menyambut si Kecil memang bisa membuat Mommy mudah merasa lelah dan khawatir. Sesekali merasa stres adalah hal yang wajar, tetapi jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat mempengaruhi kualitas tidur, pola makan, dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Karena itu, jangan ragu meminta bantuan pasangan atau keluarga saat merasa kewalahan. Luangkan waktu untuk beristirahat, melakukan aktivitas yang disukai, atau sekadar menikmati waktu santai agar tubuh dan pikiran tetap lebih tenang selama kehamilan (Yazıcı et al., 2023).
2. Hindari Aktivitas yang Terlalu Berat
Tetap aktif bergerak selama hamil memang baik untuk kesehatan. Namun, Mommy juga perlu mengenali batas kemampuan tubuh dan menghindari aktivitas yang terlalu berat, terutama jika tidak terbiasa melakukannya sebelumnya atau memiliki kondisi kehamilan tertentu yang memerlukan perhatian khusus.
Sebagai gantinya, pilih aktivitas fisik yang lebih ringan dan nyaman dilakukan, seperti:
- Jalan kaki santai
- Yoga prenatal
- Senam hamil
- Peregangan ringan
- Berenang
3. Batasi Makanan Tinggi Garam dan Makanan Ultra-Proses
Selama hamil, Mommy tidak perlu menghindari garam sepenuhnya. Namun, jumlahnya tetap perlu diperhatikan agar tekanan darah tetap stabil, terutama jika memiliki faktor risiko hipertensi atau preeklampsia. Secara umum, asupan garam dianjurkan tidak melebihi 5 gram per hari atau sekitar 1 sendok teh garam dapur dari seluruh makanan dan minuman yang dikonsumsi dalam sehari.
Yang sering tidak disadari, sebagian besar asupan garam harian justru berasal dari makanan kemasan dan makanan siap saji, bukan hanya dari garam yang ditambahkan saat memasak.
Beberapa makanan yang sebaiknya dibatasi antara lain:
- Mi instan
- Keripik dan camilan kemasan
- Sosis, nugget, dan daging olahan
- Makanan cepat saji (fast food)
- Makanan kaleng
- Saus dan bumbu instan
- Makanan beku siap saji
Selain tinggi garam, makanan ultra-proses juga umumnya mengandung gula tambahan, lemak jenuh, dan berbagai bahan aditif. Jika terlalu sering dikonsumsi, pola makan menjadi kurang seimbang dan dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan berlebih serta gangguan tekanan darah selama kehamilan (Lane et al., 2024).
Agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi, Mommy bisa lebih sering memilih makanan segar seperti:
- Buah-buahan segar
- Sayuran beragam warna
- Ikan
- Telur
- Tahu dan tempe
- Kacang-kacangan tanpa tambahan garam
- Karbohidrat kompleks seperti nasi, kentang, ubi, dan oatmeal
Memilih lebih banyak makanan segar tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan gizi selama kehamilan, tetapi juga mendukung tekanan darah tetap terkontrol dan membantu menjaga kesehatan Mommy serta tumbuh kembang si Kecil di dalam kandungan.
4. Perhatikan Asupan Kafein dan Cukupi Kebutuhan Cairan Harian
Kopi, teh, cokelat, minuman energi, serta beberapa minuman kemasan mengandung kafein yang dapat dikonsumsi selama kehamilan. Namun, jumlahnya tetap perlu dibatasi agar tidak berlebihan. Menurut National Health Service (NHS), ibu hamil dianjurkan membatasi asupan kafein hingga maksimal 200 mg per hari, atau setara sekitar 1-2 cangkir kopi, tergantung jenis dan ukuran minumannya (National Health Service, 2023).
Beberapa sumber kafein yang sering dikonsumsi antara lain:
- Kopi
- Teh hitam dan teh hijau
- Cokelat
- Minuman energi
- Minuman bersoda tertentu
- Matcha
Selain memperhatikan asupan kafein, Mommy juga perlu memastikan kebutuhan cairan harian tercukupi. Selama hamil, volume darah meningkat untuk mendukung pertumbuhan janin dan kerja plasenta sehingga kebutuhan cairan pun menjadi lebih tinggi dibanding sebelum hamil.
Agar tubuh tetap terhidrasi dengan baik, Mommy dianjurkan minum sekitar 2,3-3 liter cairan per hari atau setara kurang lebih 10-12 gelas air putih, menyesuaikan aktivitas, cuaca, dan kondisi kesehatan masing-masing.
Agar lebih mudah memenuhi kebutuhan cairan harian, Mommy bisa mencoba kebiasaan sederhana berikut:
- Minum segelas air putih setelah bangun tidur.
- Selalu menyediakan botol minum di dekat tempat beraktivitas.
- Minum sebelum merasa sangat haus.
- Menambah asupan cairan saat cuaca panas atau setelah beraktivitas lebih banyak.
- Mengonsumsi buah yang kaya air seperti semangka, jeruk, melon, dan pir.
5. Jangan Lewatkan Kontrol Kehamilan dan Konsumsi Suplemen Sesuai Anjuran
Selain menjaga pola makan sehari-hari, Mommy juga perlu rutin melakukan kontrol kehamilan sesuai jadwal yang dianjurkan dokter atau bidan. Pemeriksaan kehamilan secara berkala membantu memantau tekanan darah, pertumbuhan janin, serta mendeteksi tanda-tanda risiko preeklampsia sedini mungkin sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Meski merasa sehat dan tidak memiliki keluhan, kontrol kehamilan tetap penting dilakukan karena tekanan darah tinggi dan preeklampsia sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal.
Selain itu, pastikan kebutuhan vitamin dan mineral penting selama kehamilan juga terpenuhi. Beberapa nutrisi yang perlu mendapat perhatian antara lain:
- Zat Besi
Ibu hamil membutuhkan sekitar 27 mg zat besi per hari untuk membantu pembentukan sel darah merah dan mencegah anemia selama kehamilan. Sumber zat besi bisa diperoleh dari daging merah, hati (dalam jumlah terbatas), ayam, ikan, telur, kacang-kacangan, serta tablet tambah darah yang diresepkan tenaga kesehatan.
- Asam Folat
Kebutuhan asam folat selama kehamilan sekitar 600 mcg per hari. Nutrisi ini berperan penting dalam mendukung pembentukan otak dan sistem saraf janin, terutama pada trimester pertama. Asam folat dapat ditemukan pada sayuran hijau, alpukat, jeruk, kacang-kacangan, serta suplemen kehamilan.
- Kalsium
Ibu hamil membutuhkan sekitar 1.000 mg kalsium per hari. Kalsium membantu pembentukan tulang dan gigi janin serta mendukung fungsi otot dan saraf. Pada ibu dengan asupan kalsium rendah atau berisiko tinggi preeklampsia, WHO bahkan merekomendasikan suplementasi kalsium tambahan sesuai anjuran tenaga kesehatan (WHO, 2023).
- Vitamin D
Kebutuhan vitamin D selama kehamilan sekitar 600 IU (15 mcg) per hari. Vitamin ini membantu penyerapan kalsium dan mendukung kesehatan tulang Mommy maupun janin.
- Protein
Selain vitamin dan mineral, kebutuhan protein juga meningkat selama kehamilan. Mommy dianjurkan mengonsumsi berbagai sumber protein seperti ikan, ayam, telur, tahu, tempe, susu, dan kacang-kacangan untuk mendukung pertumbuhan janin serta menjaga kesehatan tubuh selama hamil.
Jika dokter atau bidan meresepkan vitamin prenatal, tablet tambah darah, kalsium, atau suplemen lainnya, usahakan untuk mengkonsumsinya secara rutin sesuai anjuran dan tidak menghentikannya tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.
Selain memperhatikan asupan nutrisi dari dalam, Mommy juga perlu lebih selektif terhadap produk yang digunakan sehari-hari. Beberapa kandungan dalam skincare diketahui tidak disarankan selama kehamilan karena berpotensi mempengaruhi perkembangan janin. Karena itu, memahami bahan-bahan yang perlu dihindari juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga kehamilan tetap sehat dan aman, termasuk mengenali berbagai kandungan yang dibahas dalam artikel Bahaya Skincare untuk Ibu Hamil, Ini Kandungan yang Bisa Ganggu Janin.
Dengan nutrisi yang tercukupi, kontrol kehamilan yang rutin, serta pemilihan produk yang lebih aman selama hamil, kesehatan Mommy dan si Kecil dapat terus terpantau dengan baik hingga hari persalinan tiba.
6. Hindari Rokok, Alkohol, dan Penggunaan Obat Sembarangan
Selama kehamilan, penting untuk menghindari rokok, paparan asap rokok, alkohol, serta penggunaan obat atau suplemen tanpa rekomendasi dokter. Paparan zat-zat tersebut dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi kehamilan dan mempengaruhi kesehatan janin yang sedang berkembang.
Selain itu, jika Mommy ingin mengonsumsi obat herbal, jamu, atau suplemen tambahan tertentu, sebaiknya konsultasikan dahulu dengan dokter agar penggunaannya tetap aman selama kehamilan.
Tanda Bahaya Preeklampsia yang Tidak Boleh Diabaikan
Preeklampsia sering kali berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan gejala yang langsung terasa. Itulah sebabnya kondisi ini kerap baru terdeteksi saat Mommy menjalani pemeriksaan kehamilan rutin dan tekanan darah diperiksa oleh dokter atau bidan.
Segera hubungi dokter atau bidan jika Mommy mengalami salah satu atau beberapa keluhan berikut:
- Sakit kepala berat yang tidak kunjung membaik, meskipun sudah beristirahat atau tidur cukup.
- Pandangan kabur, berkunang-kunang, atau lebih sensitif terhadap cahaya dari biasanya.
- Nyeri hebat di ulu hati atau perut kanan atas, yang terasa seperti ditekan, perih, atau menusuk.
- Mual dan muntah yang muncul kembali secara tiba-tiba setelah sebelumnya sudah membaik di trimester pertama.
- Pembengkakan yang terjadi mendadak, terutama pada wajah, kelopak mata, tangan, atau kaki.
- Sesak napas atau merasa sulit bernapas, terutama jika muncul secara tiba-tiba.
- Gerakan janin terasa berkurang dibandingkan biasanya.
Keluhan-keluhan di atas tidak selalu berarti Mommy mengalami preeklampsia. Namun, karena gejala tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan serius pada kehamilan, sebaiknya jangan menunggu hingga keluhan semakin berat.
Jika Mommy mengalami salah satu tanda bahaya tersebut, segera hubungi dokter, bidan, atau datang ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Penanganan yang dilakukan lebih awal dapat membantu mengurangi risiko komplikasi bagi Mommy maupun si Kecil.
Kesimpulan
Preeklampsia memang perlu diwaspadai, tetapi Mommy tidak perlu menghadapinya dengan rasa takut berlebihan. Salah satu langkah terbaik yang bisa dilakukan adalah rutin menjalani kontrol kehamilan agar tekanan darah dan kondisi kesehatan Mommy maupun si Kecil dapat terus dipantau sejak dini.
Selain itu, menjaga pola makan bergizi, cukup istirahat, mengelola stres, dan mengikuti anjuran dokter juga dapat membantu mendukung kehamilan yang lebih sehat dan nyaman. Ingat ya, Mom, setiap usaha kecil yang Mommy lakukan hari ini adalah bentuk kasih sayang dan perlindungan terbaik untuk si Kecil di dalam kandungan.
Kalau Mommy punya tips untuk menjaga pikiran tetap tenang selama hamil, yuk berbagi cerita di kolom komentar agar bisa saling menguatkan dengan sesama bumil lainnya. 💚
Sumber
- Gestational Hypertension and Preeclampsia: ACOG Practice Bulletin, Number 222. (2020). Obstetrics and gynecology, 135(6), e237-e260. https://doi.org/10.1097/AOG.0000000000003891
- Lane, M. M., Gamage, E., Du, S., Ashtree, D. N., McGuinness, A. J., Gauci, S., Baker, P., Lawrence, M., Rebholz, C. M., Srour, B., Touvier, M., Jacka, F. N., O’Neil, A., Segasby, T., & Marx, W. (2024). Ultra-processed food exposure and adverse health outcomes: umbrella review of epidemiological meta-analyses. BMJ (Clinical research ed.), 384, e077310. https://doi.org/10.1136/bmj-2023-077310
- National Health Service. (2023). Foods to avoid in pregnancy. NHS. https://www.nhs.uk/pregnancy/keeping-well/foods-to-avoid/
- World Health Organization. (2022). WHO recommendations on maternal and newborn care for a positive postnatal experience. https://www.who.int/publications/i/item/9789240045989
- Yazıcı, E., & Şahin, S. (2023). Psychiatric Disorders During Pregnancy and Postpartum Period: A Guide For Perinatal Interview. The Eurasian journal of medicine, 55(1), S61-S69. https://doi.org/10.5152/eurasianjmed.2023.23329
Tonton edukasinya di sini yuk, Mom!
Artikel Terkait
Mommin
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.









