Bayi Baru Lahir Gumoh Berdarah, Normal atau Berbahaya?

Momuung.com – Melihat gumoh bayi baru lahir bercampur darah tentu bisa membuat Mommy panik. Apalagi jika muncul bercak merah atau warna merah muda pada muntahan Si Kecil. Banyak orang tua langsung khawatir bahwa bayi mengalami perdarahan serius.
Padahal, pada sebagian besar kasus, Darah pada gumoh bayi baru lahir justru bukan berasal dari tubuh bayi. Darah tersebut sering kali berasal dari darah Mommy yang tertelan saat proses persalinan atau ketika menyusu dari puting yang sedang lecet atau berdarah.
Meski begitu, kondisi ini tetap tidak boleh diabaikan. Ada penyebab yang tergolong normal dan akan membaik dengan sendirinya, tetapi ada juga yang memerlukan pemeriksaan oleh dokter.
Lalu, apa saja penyebab bayi baru lahir gumoh campur darah? Yuk, simak penjelasannya berikut ini.
DAFTAR ISI
Penyebab Bayi Baru Lahir Gumoh Campur Darah
Berikut beberapa penyebab yang paling sering membuat gumoh bayi tampak bercampur darah.
1. Bayi Menelan Darah dari Puting Mommy yang Lecet
Salah satu penyebab paling sering bayi baru lahir gumoh campur darah adalah darah yang berasal dari puting Mommy, bukan dari tubuh Si Kecil.
Saat puting lecet atau berdarah, sedikit darah dapat bercampur dengan ASI saat bayi menyusu. Darah tersebut kemudian ikut tertelan dan bisa keluar kembali ketika bayi gumoh. Meski terlihat mengkhawatirkan, kondisi ini umumnya tidak berbahaya bagi bayi.
Meski begitu, Mommy tetap perlu mencari penyebab puting yang terluka agar proses menyusui menjadi lebih nyaman dan luka tidak terus berulang.
Beberapa penyebab puting berdarah yang sering terjadi antara lain:
- Pelekatan (latch) kurang tepat
Mulut bayi belum membuka cukup lebar atau hanya mengisap bagian puting tanpa sebagian besar areola. Akibatnya, puting mendapat tekanan berlebih sehingga mudah lecet, nyeri, bahkan berdarah. - Corong pompa ASI tidak sesuai ukuran
Corong yang terlalu kecil atau terlalu besar dapat menyebabkan gesekan berlebihan pada puting. Jika digunakan berulang kali, kondisi ini dapat menimbulkan luka atau iritasi. - Infeksi jamur pada puting (thrush)
Infeksi jamur Candida dapat membuat puting terasa sangat nyeri, gatal, atau seperti terbakar, bahkan setelah selesai menyusui. Pada beberapa Mommy, kulit puting juga bisa pecah hingga mengeluarkan darah. - Vasospasme pada puting
Vasospasme adalah kondisi ketika pembuluh darah di puting menyempit secara tiba-tiba, biasanya setelah menyusui atau terpapar udara dingin. Puting bisa berubah warna menjadi putih, kebiruan, atau ungu disertai nyeri yang menusuk. - Saluran ASI tersumbat
ASI yang tidak keluar dengan lancar dapat menyebabkan payudara terasa penuh dan menimbulkan tekanan saat bayi menyusu. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa membuat proses menyusui terasa lebih menyakitkan dan meningkatkan risiko puting lecet. - Produksi ASI berlebih (oversupply)
Aliran ASI yang terlalu deras membuat sebagian bayi kesulitan mengatur hisapan. Bayi mungkin menggigit atau melepaskan puting berulang kali sehingga puting lebih mudah mengalami luka. - Tongue tie pada bayi
Bayi dengan tongue tie memiliki pergerakan lidah yang lebih terbatas sehingga sulit mempertahankan pelekatan yang baik. Akibatnya, puting menerima tekanan dan gesekan lebih besar selama menyusu. - Penyebab lainnya
Misalnya kulit puting yang sangat sensitif, eksim, dermatitis, atau iritasi akibat penggunaan sabun dan produk perawatan tertentu yang membuat kulit menjadi lebih kering dan mudah pecah.
Selain memperhatikan kondisi puting, Mommy juga perlu mengamati seperti apa gumoh yang dialami Si Kecil. Pasalnya, tidak semua gumoh menandakan kondisi yang sama. Jika gumoh terjadi sangat sering, jumlahnya banyak, atau disertai bayi tampak tidak nyaman setelah menyusu, ada kemungkinan penyebabnya berbeda dari gumoh biasa. Agar lebih mudah mengenali perbedaannya, yuk pelajari juga Gumoh Biasa atau Gejala GERD? Kenali Perbedaannya pada Bayi sehingga Mommy dapat mengetahui kapan gumoh masih tergolong normal dan kapan perlu berkonsultasi ke dokter.
2. Bayi Menelan Darah Saat Persalinan
Jika gumoh berdarah muncul dalam beberapa jam pertama setelah Si Kecil lahir, salah satu penyebab yang paling mungkin adalah bayi menelan darah Mommy saat proses persalinan.
Hal ini dapat terjadi ketika bayi melewati jalan lahir sehingga tanpa sengaja menelan sedikit darah yang berasal dari perdarahan normal selama persalinan. Setelah lahir, darah yang sudah tertelan tersebut dapat keluar kembali melalui gumoh atau muntah. Pada beberapa bayi, darah juga bisa terlihat pada feses dalam satu hingga dua hari pertama kehidupan.
Kondisi ini umumnya bersifat sementara dan bukan merupakan tanda bahwa bayi mengalami perdarahan di saluran cernanya. Setelah seluruh darah yang tertelan keluar, gumoh biasanya akan kembali normal tanpa memerlukan penanganan khusus.
Meski begitu, Mommy tetap sebaiknya memberi tahu dokter atau tenaga kesehatan jika menemukan darah pada gumoh Si Kecil. Dokter dapat memastikan apakah darah memang berasal dari proses persalinan atau perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menyingkirkan penyebab lain yang lebih serius.
3. Muntah yang Terlalu Kuat
Pada kondisi yang cukup jarang, gumoh atau muntah yang terjadi sangat kuat dapat menyebabkan robekan kecil pada lapisan kerongkongan (esofagus). Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai Mallory-Weiss tear.
Robekan kecil tersebut dapat menyebabkan sedikit perdarahan sehingga Mommy mungkin melihat bercak darah pada gumoh Si Kecil.
Beberapa hal yang perlu Mommy ketahui:
- Biasanya jumlah darah hanya sedikit. Gumoh dapat terlihat bercampur garis merah tipis atau bercak darah, bukan darah dalam jumlah banyak.
- Umumnya dapat berhenti sendiri. Jika robekannya kecil, perdarahan biasanya akan berhenti tanpa penanganan khusus.
- Tetap perlu dipantau. Jika gumoh berdarah terus berulang, jumlah darah semakin banyak, atau bayi tampak lemas, segera bawa Si Kecil ke dokter agar penyebabnya dapat dipastikan.
4. Iritasi atau Cedera pada Saluran Cerna
Pada beberapa bayi, darah pada gumoh juga dapat berasal dari iritasi ringan atau cedera pada saluran pencernaan bagian atas, seperti tenggorokan atau kerongkongan.
Kondisi ini biasanya terjadi pada bayi yang menjalani tindakan medis tertentu setelah lahir, misalnya pemasangan selang nasogastrik (NGT) untuk membantu pemberian nutrisi atau mengeluarkan isi lambung. Saat selang dimasukkan, lapisan hidung, tenggorokan, atau kerongkongan dapat mengalami iritasi ringan sehingga muncul sedikit perdarahan.
Beberapa hal yang perlu Mommy ketahui:
- Kondisi ini relatif jarang terjadi dan umumnya hanya menyebabkan perdarahan dalam jumlah sedikit.
- Biasanya bersifat sementara. Setelah iritasi membaik, darah pada gumoh pun akan menghilang.
- Perlu evaluasi jika berlanjut. Bila darah terus muncul atau disertai keluhan lain, dokter akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada penyebab lain yang lebih serius.
5. Gangguan Pembekuan Darah
Meski jarang, gangguan pembekuan darah juga dapat menjadi penyebab bayi baru lahir gumoh campur darah. Pada kondisi ini, tubuh bayi lebih sulit menghentikan perdarahan sehingga darah dapat muncul dari berbagai bagian tubuh, termasuk saluran cerna.
Salah satu penyebab yang perlu diwaspadai adalah Vitamin K Deficiency Bleeding (VKDB), yaitu perdarahan akibat tubuh bayi kekurangan vitamin K.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
- Bayi baru lahir memang memiliki cadangan vitamin K yang sangat sedikit. Padahal, vitamin K dibutuhkan tubuh untuk membantu proses pembekuan darah.
- ASI juga mengandung vitamin K dalam jumlah yang terbatas. Karena itu, bayi belum dapat memenuhi kebutuhannya sendiri pada hari-hari pertama kehidupan.
- Inilah alasan semua bayi dianjurkan mendapatkan suntikan vitamin K setelah lahir. Pemberian vitamin K terbukti efektif membantu mencegah perdarahan serius akibat VKDB.
6. Alergi Protein Susu Sapi
Pada sebagian bayi yang mengonsumsi susu formula berbahan dasar susu sapi, alergi protein susu sapi dapat menyebabkan peradangan pada saluran cerna.
Akibatnya, dapat muncul perdarahan ringan yang membuat darah terlihat pada muntahan atau tinja bayi.
Meski demikian, penyebab ini jauh lebih jarang dibandingkan darah yang berasal dari puting Mommy atau darah yang tertelan saat persalinan. Biasanya bayi juga disertai gejala lain, seperti:
- diare,
- tinja bercampur darah,
- ruam kulit,
- muntah berulang,
- atau berat badan yang sulit bertambah.

Kapan Bayi gumoh campur darah Harus Segera Dibawa ke Dokter?
Pada banyak kasus, gumoh campur darah pada bayi baru lahir bukanlah kondisi yang berbahaya, terutama jika darah berasal dari puting Mommy yang lecet atau darah yang tertelan saat proses persalinan. Meski begitu, Mommy tetap perlu memperhatikan kondisi Si Kecil secara keseluruhan.
Segera bawa Si Kecil ke dokter apabila gumoh berdarah disertai salah satu atau beberapa tanda berikut:
- Demam, karena dapat menjadi tanda adanya infeksi yang memerlukan penanganan.
- Perut tampak bengkak atau kembung, terutama jika disertai bayi rewel atau muntah berulang.
- Muntah berwarna hijau, karena bisa menandakan adanya sumbatan pada saluran pencernaan yang membutuhkan penanganan segera.
- Bayi tampak sangat lemas, sulit dibangunkan, atau kurang responsif dibanding biasanya.
- Gumoh bercampur darah terjadi berulang, meskipun Mommy sudah tidak mengalami puting berdarah.
- Jumlah darah semakin banyak atau darah tampak segar dalam jumlah yang cukup banyak.
- Bayi sulit menyusu atau tampak kesulitan bernapas, karena kondisi ini memerlukan pemeriksaan medis sesegera mungkin.
Saat memeriksa Si Kecil, dokter biasanya akan menggali beberapa informasi untuk membantu mencari penyebab gumoh berdarah, seperti:
- kapan darah pertama kali muncul,
- seberapa sering gumoh berdarah terjadi,
- apakah bayi mendapat ASI, susu formula, atau keduanya,
- apakah Mommy sedang mengalami puting lecet atau berdarah saat menyusui,
- serta apakah bayi memiliki keluhan lain, seperti demam, muntah hijau, atau BAB berdarah.
Informasi tersebut akan membantu dokter menentukan apakah darah kemungkinan berasal dari darah yang tertelan atau justru berasal dari saluran cerna bayi, sehingga penanganan yang diberikan bisa lebih tepat sesuai penyebabnya.
Artikel Terkait
Mommin
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.









