Bayi Tidak Sendawa Setelah Menyusu, Apakah Normal?

Momuung.com – Setelah menyusu, apakah si Kecil sering sulit bersendawa meski Mommy sudah mencoba berbagai cara? Tenang ya, Mom. Kondisi ini cukup sering dialami banyak bayi, terutama newborn yang masih belajar beradaptasi dengan proses menyusu dan sistem pencernaannya yang belum matang.
Tidak sedikit Mommy yang akhirnya pegal karena terlalu lama menepuk punggung bayi, tetapi si Kecil tetap tidak mengeluarkan sendawa. Padahal, ada beberapa posisi dan cara yang lebih nyaman untuk membantu mengeluarkan udara yang terperangkap di perut bayi setelah menyusu.
Yuk, Buibu wajib baca! Cari tahu penyebab bayi sulit bersendawa serta beberapa teknik sederhana yang bisa Mommy coba agar si Kecil lebih nyaman dan tidak mudah kembung setelah menyusu.
DAFTAR ISI
1. Coba Posisi Tengkurap di Pangkuan dengan Usapan Lembut
Jika si Kecil belum juga bersendawa setelah beberapa kali ditepuk lembut, Mommy tidak perlu langsung khawatir. Pada sebagian bayi, perubahan posisi tubuh justru lebih membantu dibandingkan menepuk punggung terlalu lama. Salah satu posisi yang cukup sering direkomendasikan adalah posisi tengkurap di pangkuan karena dapat membantu udara yang tertelan saat menyusu bergerak lebih mudah ke atas (National Health Service [NHS], n.d.)
Cara melakukannya:
- Duduklah dengan posisi yang nyaman.
- Letakkan si Kecil tengkurap di atas paha Mommy.
- Pastikan kepala dan leher bayi tetap tersangga dengan baik.
- Posisikan kepala bayi sedikit lebih tinggi dari area dada.
- Usap punggung bayi secara perlahan dari bawah ke atas menggunakan telapak tangan.
Mengapa posisi ini bisa membantu?
Saat menyusu, sebagian bayi ikut menelan udara bersama ASI. Udara yang terperangkap di lambung inilah yang kadang membuat bayi tampak tidak nyaman, kembung, atau rewel setelah menyusu.
Posisi tengkurap di pangkuan memberikan tekanan ringan pada area perut (gentle abdominal pressure). Kombinasi antara posisi tubuh dan usapan lembut di punggung dapat membantu gelembung udara bergerak ke arah kerongkongan sehingga lebih mudah keluar sebagai sendawa (Cleveland Clinic, 2025).
Perlu diingat, tujuan utamanya bukan membuat bayi pasti bersendawa, melainkan membantu tubuhnya mengeluarkan udara secara alami apabila memang ada udara yang tertelan saat menyusu.
2. Tidak Semua Bayi Harus Bersendawa Setelah Menyusu
Banyak Mommy merasa proses menyusui belum selesai jika si Kecil belum bersendawa. Padahal, faktanya tidak semua bayi perlu mengeluarkan sendawa setiap kali selesai menyusu.
Bayi yang menyusu langsung dengan pelekatan yang baik umumnya menelan lebih sedikti udara dibandingkan bayi yang menyusu dengan pelekatan yang kurang optimal atau bayi yang minum menggunakan botol dengan aliran susu yang terlalu cepat.
Berapa lama sebaiknya mencoba menyendawakan bayi?
Tidak ada aturan baku yang mengharuskan bayi disendawakan dalam waktu tertentu. Namun, banyak tenaga kesehatan menyarankan untuk mencoba menyendawakan bayi selama beberapa menit setelah menyusu.
Sebagai panduan praktis, Mommy dapat mencoba selama sekitar 5-10 menit. Jika setelah itu si Kecil tetap tidak bersendawa tetapi terlihat nyaman, Mommy tidak perlu memaksakan proses tersebut lebih lama (Cleveland Clinic, 2025).
Tanda bayi kemungkinan tidak membutuhkan sendawa tambahan:
- Tetap tenang setelah menyusu.
- Tidak tampak kembung atau gelisah.
- Tidak sering menggeliat karena tidak nyaman.
- Tidak melengkungkan punggung.
- Mudah tertidur setelah menyusu.
- Tidak sering gumoh atau menangis.
Kapan Mommy perlu mencoba lagi?
Jika setelah menyusu si Kecil menunjukkan tanda-tanda berikut, Mommy bisa mencoba posisi sendawa lain sebelum menidurkannya:
- Tampak gelisah atau rewel.
- Sering menggeliat.
- Menarik kaki ke arah perut.
- Perut terasa lebih keras atau tampak kembung.
- Sering gumoh disertai rasa tidak nyaman.
Yang terpenting, jangan sampai proses menyendawakan justru membuat bayi semakin terganggu atau Mommy menjadi terlalu lelah. Setiap bayi memiliki kebutuhan yang berbeda. Tidak bersendawa bukan selalu berarti ada udara yang terjebak atau masalah pada pencernaannya.
3. Jika Belum Bersendawa, Tidak Perlu Dipaksa
Banyak Mommy khawatir jika si Kecil tidak kunjung bersendawa setelah menyusu. Tak jarang muncul pertanyaan, “Kalau tidak sendawa, nanti bayi gumoh atau tersedak saat tidur tidak ya?”
Kekhawatiran ini memang wajar. Namun, yang perlu diingat adalah tidak semua bayi harus selalu bersendawa setelah menyusu. Jika si Kecil tampak nyaman, tidak rewel, dan tidak menunjukkan tanda kembung, kemungkinan udara yang tertelan memang tidak terlalu banyak.
Meski begitu, setelah menyusu, Mommy tetap perlu memperhatikan posisi bayi sebelum tidur.
Yang perlu dilakukan setelah menyusu:
- Gendong bayi dalam posisi tegak selama sekitar 10-20 menit setelah menyusu jika memungkinkan.
- Biarkan bayi tetap tenang dan hindari aktivitas yang terlalu banyak mengguncang tubuhnya.
- Jika bayi sudah mengantuk setelah menyusu, jangan langsung membaringkannya dalam posisi datar. Biarkan kepala bayi berada lebih tinggi dengan tubuh tersangga hingga area bahu selama beberapa saat sebelum ditidurkan di tempat tidur yang aman.
Jadi, meskipun si Kecil belum bersendawa, Mommy tidak perlu langsung panik. Yang terpenting adalah memastikan bayi tidur dengan posisi yang aman dan tetap dipantau bila memiliki riwayat gumoh atau refluks yang cukup sering.
4. Bayi Tertidur Setelah Menyusu? Ini yang Bisa Mommy Lakukan
Tidak jarang si Kecil tertidur pulas saat atau setelah menyusu. Kondisi ini sangat normal, terutama pada bayi baru lahir yang masih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur.
Jika bayi tampak nyaman, bernapas normal, dan tidak menunjukkan tanda-tanda kembung atau gelisah, Mommy tidak perlu membangunkannya hanya untuk memaksa proses sendawa.
Sebagai gantinya, Mommy dapat:
- Menggendong bayi dalam posisi tegak selama beberapa menit jika memungkinkan.
- Setelah itu, pindahkan bayi ke tempat tidurnya dalam posisi telentang.
- Setelah menyusu, Mommy dapat mempertahankan posisi kepala bayi sedikit lebih tinggi dengan tubuh tersangga hingga area bahu selama kurang lebih 20–30 menit. Setelah itu, bayi dapat ditidurkan di kasur yang kokoh dan aman, tanpa bantal, guling, selimut tebal, maupun alat penyangga tidur lainnya.
Perlu diketahui bahwa penggunaan bantal miring (inclined sleeper), bantal penyangga refluks, atau posisi tidur miring sudah tidak direkomendasikan karena dapat meningkatkan risiko bayi bergeser ke posisi yang mengganggu jalan napas dan berpotensi meningkatkan risiko cedera maupun Sudden Infant Death Syndrome (SIDS).
Selalu Cek Popok Sebelum Menyimpulkan Bayi Kembung
Banyak Mommy langsung mengira si Kecil rewel setelah menyusu karena belum bersendawa atau perutnya kembung. Padahal, penyebabnya belum tentu selalu karena gas yang terperangkap di dalam perut.
Salah satu hal sederhana yang sering terlewat adalah kondisi popok bayi.
Setelah menyusu, sistem pencernaan bayi biasanya menjadi lebih aktif. Tidak jarang bayi langsung buang air kecil atau bahkan buang air besar saat atau beberapa saat setelah selesai menyusu. Popok yang basah, penuh, atau terasa tidak nyaman bisa membuat bayi menjadi rewel meskipun sebenarnya ia sudah kenyang dan tidak menhgalami masalah pada perutnya.
Sebelum mencoba berbagai cara untuk membantu bayi bersendawa, Mommy bisa melakukan pengecekan sederhana berikut:
- Periksa apakah popok bayi sudah basah atau penuh.
- Pastikan area popok tidak terlalu lembap atau menyebabkan iritasi pada kulit.
- Ganti popok jika terasa berat, penuh, atau sudah digunakan cukup lama.
- Amati kembali kondisi bayi setelah popok diganti.

Sering kali, bayi kembali tenang hanya karena kebutuhan sederhananya sudah terpenuhi. Jadi, sebelum menyimpulkan bahwa si Kecil mengalami kembung atau sulit bersendawa, jangan lupa cek popoknya terlebih dahulu ya, Mom. Kadang sumber kerewelannya ternyata sesederhana itu.
Namun, jika popok sudah bersih dan si Kecil masih tampak tidak nyaman, sering menggeliat, menarik kaki ke arah perut, atau perutnya terasa lebih keras dari biasanya, bisa jadi ada gas yang memang terperangkap di saluran pencernaannya. Untuk membantu Mommy mengenali tanda-tandanya sekaligus mengetahui langkah penanganan yang aman di rumah, Mommy juga bisa membaca artikel “5 Cara Mengatasi Perut Kembung pada Bayi yang Ampuh dan Alami” sebagai panduan tambahan agar si Kecil kembali merasa nyaman.
Kesimpulan
Bayi yang tidak langsung bersendawa setelah menyusu bukan berarti selalu mengalami masalah. Pada sebagian bayi, udara yang tertelan saat menyusu memang sangat sedikit sehingga mereka tidak selalu perlu bersendawa setiap kali selesai menyusu.
Yang terpenting, Mommy tidak perlu panik atau memaksakan si Kecil untuk bersendawa dengan menepuk punggung terlalu lama. Perhatikan kenyamanan bayi, gunakan posisi yang aman setelah menyusu, dan kenali tanda-tanda apakah si Kecil benar-benar tampak tidak nyaman atau justru baik-baik saja.
Setiap bayi memiliki kebiasaan yang berbeda. Ada yang mudah bersendawa dalam hitungan menit, ada juga yang jarang bersendawa tetapi tetap nyaman dan tumbuh dengan baik.
Jika Mommy masih bingung mengenai Cara menyendawakan bayi yang tepat, pelekatan saat menyusu, bayi sering gumoh, kembung, atau memiliki pertanyaan lain seputar menyusui, Mommy juga bisa berkonsultasi langsung dengan konselor menyusui Mom Uung. Dengan pendampingan yang tepat, Mommy bisa mendapatkan solusi yang sesuai dengan kondisi si Kecil sehingga proses menyusui terasa lebih tenang dan nyaman.
Tetap semangat menjalani perjalanan menyusui ya, Mom. Setiap langkah kecil yang Mommy lakukan adalah bentuk kasih sayang terbaik untuk si Kecil.
Sumber
Cleveland Clinic. (2025). Burping your baby: Techniques, tips and timing. https://health.clevelandclinic.org/how-to-burp-a-baby
National Health Service. (n.d.). Burping your baby. https://www.nhs.uk/best-start-in-life/baby/feeding-your-baby/breastfeeding/how-to-breastfeed/burping-your-baby/
Artikel Terkait
Mommin
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.









