Bolehkah Ibu Menyusui Donor Darah? Ini Panduan Lengkapnya

Momuung.com – Banyak Mommy yang bertanya, bolehkah Ibu menyusui donor darah?
Jawabannya, boleh, tetapi ada syarat dan waktu yang perlu diperhatikan agar kesehatan Mommy maupun Si Kecil tetap terjaga. Yuk, pahami aturan, waktu yang aman, serta tips mempersiapkan tubuh sebelum donor darah dengan membaca artikel selengkapnya di bawah ini, ya Mom!
DAFTAR ISI
- Perbedaan Aturan Donor Darah untuk Ibu Menyusui Menurut PMI dan WHO
- Syarat Kesehatan Fisik Sebelum Donor Darah
- Mengapa Ibu Menyusui Perlu Menunda Donor Darah?
- Apakah Donor Darah Membuat ASI Berkurang?
- ASI Tetap Berkualitas, tetapi Cadangan Zat Besi Ibu Harus Dijaga
- Mengapa Sebagian Ibu Merasa Pusing Setelah Donor?
- Tips Pemulihan Setelah Donor Darah bagi Ibu Menyusui
- Dukung Pemulihan Mommy dengan Nutrisi Tambahan dari Susu Mylkflow Mom Uung
Perbedaan Aturan Donor Darah untuk Ibu Menyusui Menurut PMI dan WHO
Aturan mengenai donor darah untuk ibu menyusui ternyata bisa berbeda di setiap negara, Mom. Perbedaan ini dibuat untuk memastikan kondisi tubuh ibu benar-benar pulih setelah melahirkan dan tetap mampu memenuhi kebutuhan nutrisi Si Kecil selama menyusui.
Berikut perbedaannya.
Menurut Palang Merah Indonesia (PMI), ibu boleh mendonorkan darah dengan ketentuan:
- Minimal 6 bulan setelah melahirkan.
- Jika masih menyusui, sebaiknya menunggu hingga 3 bulan setelah benar-benar berhenti menyusui (menyapih) agar tubuh memiliki waktu yang cukup untuk memulihkan cadangan darah dan nutrisi.
Sementara itu, World Health Organization (WHO) memberikan rekomendasi yang lebih hati-hati. WHO menyarankan agar ibu tidak mendonorkan darah selama masih menyusui, kemudian menunggu hingga:
- Minimal 9 bulan setelah persalinan.
- Minimal 3 bulan setelah bayi memperoleh sebagian besar nutrisinya dari MPASI atau susu formula (World Health Organization, 2020).
Sebagai perbandingan, NHS Blood and Transplant di Inggris memperbolehkan ibu mendonorkan darah ketika bayi telah berusia minimal 6 bulan (NHS Blood and Transplant, n.d.).
Jadi, wajar ya Mom jika aturan donor darah yang Mommy temukan berbeda-beda. Sebelum memutuskan untuk donor, pastikan Mommy berkonsultasi dengan dokter atau mengikuti proses skrining kesehatan dari petugas PMI. Dengan begitu, donor darah tetap aman dilakukan tanpa mengganggu kesehatan Mommy maupun kelancaran menyusui.
Syarat Kesehatan Fisik Sebelum Donor Darah
Selain memastikan waktu donor sudah sesuai anjuran, Mommy juga perlu memastikan kondisi tubuh benar-benar sehat dan siap. Pasalnya, setiap calon pendonor akan menjalani pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu untuk memastikan donor darah aman dilakukan.
Secara umum, beberapa syarat yang perlu dipenuhi meliputi:
- Kadar hemoglobin (Hb) berada pada kisaran 12,5-17 g/dL.
- Tekanan darah berada dalam batas yang diperbolehkan, yaitu 100-180 mmHg (sistolik) dan 70-100 mmHg (diastolik).
- Berat badan minimal 45 kg sesuai ketentuan PMI.
- Tidak sedang mengalami demam, infeksi, perdarahan, atau kondisi kesehatan lain yang dapat memengaruhi keamanan donor darah.
Jadi, meskipun masa tunggu setelah melahirkan atau menyusui sudah terpenuhi, Mommy tetap perlu lolos pemeriksaan kesehatan sebelum diperbolehkan mendonorkan darah.

Mengapa Ibu Menyusui Perlu Menunda Donor Darah?
Saat mendonorkan darah, tubuh akan kehilangan sekitar 350-450 ml darah. Meski darah tersebut dapat diproduksi kembali, tubuh tetap membutuhkan waktu untuk memulihkan volume darah, kadar hemoglobin, dan cadangan zat besi.
Selama menyusui, tubuh juga terus bekerja memproduksi ASI setiap hari. Itulah sebabnya, jika cadangan zat besi atau hemoglobin Mommy masih rendah, donor darah dapat membuat tubuh lebih mudah mengalami:
- cepat lelah,
- pusing atau berkunang-kunang,
- tubuh terasa lemas,
- atau memperburuk anemia yang sudah ada.
Karena itu, aturan penundaan donor darah bukan berarti ibu menyusui tidak boleh menjadi pendonor, ya Mom. Tujuannya adalah memberi waktu bagi tubuh untuk pulih dengan optimal sehingga kesehatan Mommy tetap terjaga dan proses menyusui Si Kecil tetap berjalan dengan baik.
Menariknya, menyusui sendiri juga memberikan banyak manfaat bagi kesehatan Mommy, tidak hanya membantu proses pemulihan setelah melahirkan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa menyusui juga dapat memberikan manfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Yuk, cari tahu penjelasan lengkapnya di artikel “Benarkah Menyusui Bisa Menurunkan Risiko Hipertensi?” ya, Mom.
Apakah Donor Darah Membuat ASI Berkurang?
Kabar baiknya, donor darah tidak terbukti secara langsung menyebabkan produksi ASI berkurang, asalkan Mommy dalam kondisi sehat, memenuhi syarat donor, serta tetap menjaga asupan cairan dan nutrisi setelah mendonor.
Hal ini karena produksi ASI bekerja dengan prinsip supply and demand. Artinya, semakin sering payudara dikosongkan melalui hisapan bayi atau pompa ASI, semakin banyak pula ASI yang diproduksi.
Meski begitu, sebagian Mommy mungkin merasa tubuh lebih lelah setelah donor darah. Jika kondisi ini disertai dengan kurang minum atau kurang makan, proses menyusui bisa terasa lebih berat untuk sementara waktu.
Agar tubuh lebih cepat pulih, usahakan setelah donor Mommy:
- Minum air putih lebih banyak untuk mengganti cairan yang hilang.
- Mengonsumsi makanan bergizi, terutama yang kaya protein dan zat besi.
- Tetap menyusui atau memompa ASI sesuai kebutuhan Si Kecil agar produksi ASI tetap terjaga.
- Beristirahat yang cukup dan hindari aktivitas fisik yang terlalu berat selama beberapa jam setelah donor.
Kalau setelah donor Mommy merasa produksi ASI sedang kurang lancar, tidak perlu langsung panik ya. Kondisi ini sering kali berkaitan dengan kelelahan, kurang cairan, atau asupan nutrisi yang belum optimal, bukan karena donor darah itu sendiri. Yuk, cari tahu cara membantu melancarkan produksi ASI dengan membaca artikel “ASI Seret? Cek 5 Tips Melancarkan ASI untuk Produksi yang Optimal” agar kebutuhan ASI Si Kecil tetap terpenuhi.
ASI Tetap Berkualitas, tetapi Cadangan Zat Besi Ibu Harus Dijaga
Tidak sedikit Mommy yang khawatir donor darah akan membuat kualitas ASI menurun atau kandungan zat besinya berkurang. Kabar baiknya, hal tersebut tidak terbukti.
Meski kandungan zat besi dalam ASI memang relatif sedikit, zat besi pada ASI memiliki bioavailabilitas yang tinggi, sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh bayi dibandingkan sumber zat besi lainnya. Bahkan, penelitian oleh Marques dkk. (2016) menunjukkan bahwa kadar hemoglobin ibu tidak berhubungan langsung dengan kadar hemoglobin bayi yang mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama.
Meski begitu, bukan berarti Mommy boleh mengabaikan asupan nutrisi ya. Setelah donor darah, tubuh tetap membutuhkan zat besi untuk membantu proses pemulihan, seperti:
- membentuk sel darah merah yang baru,
- menggantikan darah yang hilang selama donor,
- menjaga kadar hemoglobin tetap normal,
- serta mendukung kondisi tubuh agar tetap fit selama menyusui.
Mengapa Sebagian Ibu Merasa Pusing Setelah Donor?
Setelah donor darah, sebagian orang dapat mengalami reaksi vasovagal, yaitu respons tubuh akibat penurunan volume darah sementara.
Gejalanya bisa berupa:
- pusing,
- pandangan berkunang-kunang,
- mual,
- tubuh terasa lemas,
- hingga pingsan.
Pada ibu menyusui, risiko ini dapat meningkat bila sebelumnya Mommy:
- kurang tidur,
- kurang minum,
- belum makan,
- atau masih dalam masa pemulihan setelah melahirkan.
Penelitian oleh Ebina dan Kashiwakura (2012) juga menunjukkan bahwa ibu menyusui memiliki tekanan darah sistolik yang cenderung lebih rendah pada awal masa nifas dibandingkan ibu yang tidak menyusui.
Karena itu, sebelum donor pastikan Mommy sudah makan, minum yang cukup, dan mengikuti seluruh arahan petugas kesehatan selama proses donor.
Tips Pemulihan Setelah Donor Darah bagi Ibu Menyusui
Setelah donor darah, tubuh memerlukan waktu untuk mengganti cairan dan membentuk sel darah merah baru. Supaya proses pemulihan berjalan lebih optimal, Mommy dapat melakukan beberapa hal berikut.
- Minum air putih lebih banyak, sekitar 500 ml tambahan sebelum donor dan lanjutkan hidrasi yang cukup setelahnya.
- Perbanyak konsumsi makanan tinggi protein seperti ikan, telur, ayam, daging, tahu, tempe, dan kacang-kacangan.
- Konsumsi makanan kaya zat besi seperti daging merah, hati, bayam, dan sayuran hijau.
- Padukan dengan makanan tinggi vitamin C agar penyerapan zat besi lebih optimal.
- Istirahat yang cukup dan kurangi aktivitas berat selama beberapa jam setelah donor.
- Bila memungkinkan, minta bantuan pasangan atau keluarga untuk sementara menggantikan tugas mengurus Si Kecil agar Mommy bisa beristirahat.
Dukung Pemulihan Mommy dengan Nutrisi Tambahan dari Susu Mylkflow Mom Uung
Selain mengonsumsi makanan bergizi seimbang, Mommy juga bisa melengkapi kebutuhan nutrisi harian dengan Susu Mylkflow Mom Uung, terutama setelah donor darah ketika tubuh sedang dalam proses pemulihan.
Susu Mylkflow diformulasikan khusus untuk ibu hamil dan menyusui dengan kandungan nutrisi yang membantu memenuhi kebutuhan harian Mommy, sekaligus mendukung produksi ASI.
Beberapa keunggulan Susu Mylkflow Mom Uung antara lain:
- Protein lebih tinggi untuk membantu memenuhi kebutuhan protein harian ibu menyusui.
- Mengandung ekstrak daun katuk dan daun kelor, dua bahan yang telah lama dikenal sebagai galaktagog alami untuk membantu mendukung produksi ASI.
- Diperkaya DHA, omega-3, omega-6, vitamin, dan mineral untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi ibu selama menyusui.
- Mengandung kalsium yang membantu menjaga kesehatan tulang dan gigi.
- Rendah rasa enek dengan varian rasa yang lebih nyaman diminum setiap hari.
- Aman dikonsumsi sejak masa kehamilan hingga menyusui sebagai pelengkap pola makan bergizi seimbang.
Meski begitu, Susu Mylkflow tetap merupakan pelengkap nutrisi, bukan pengganti makanan utama. Karena itu, Mommy tetap dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi lengkap, cukup minum, serta beristirahat agar proses pemulihan setelah donor darah berlangsung lebih optimal.
Dengan kondisi tubuh yang prima, Mommy pun bisa kembali beraktivitas dan menyusui Si Kecil dengan lebih nyaman.
Artikel Terkait
Mommin
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.









