Bayi Menyusu Satu Sisi, Benarkah Bisa Sebabkan Tortikolis?

Momuung.com – Bayi hanya mau menyusu di satu payudara sering membuat Mommy khawatir, apalagi jika Si Kecil selalu menolak ketika dipindahkan ke sisi lainnya. Kondisi ini juga kerap dikaitkan dengan leher kaku atau Tortikolis pada bayi.
Tapi, apakah benar menyusu hanya di satu sisi bisa menyebabkan tortikolis?
Yuk, pahami hubungan keduanya, kenali penyebab tortikolis pada bayi, dan ketahui apa yang bisa Mommy lakukan agar proses menyusui tetap nyaman.
DAFTAR ISI
- Benarkah Bayi yang Menyusu Satu Sisi Bisa Mengalami Tortikolis?
- Apa Itu Tortikolis pada Bayi?
- Penyebab Tortikolis pada Bayi
- Apa Hubungannya dengan Bayi yang Hanya Mau Menyusu di Satu Sisi?
- Apakah Menyusu Hanya di Satu Sisi Bisa Memengaruhi Produksi ASI?
- Apa yang Bisa Mommy Lakukan di Rumah?
- Kesimpulan
- Sumber
Benarkah Bayi yang Menyusu Satu Sisi Bisa Mengalami Tortikolis?
Tidak ada bukti bahwa kebiasaan menyusu hanya di satu payudara secara langsung menyebabkan tortikolis.
Justru, pada sebagian bayi yang mengalami tortikolis, keterbatasan gerak leher dapat membuat mereka lebih nyaman menyusu di satu sisi. Misalnya, ketika bayi merasa tidak nyaman saat harus menoleh ke arah tertentu, ia mungkin memilih payudara dengan posisi yang tidak membuat lehernya terlalu banyak bergerak.
Karena itu, bayi yang terus-menerus memilih satu payudara bisa menjadi salah satu tanda adanya keterbatasan gerak atau ketidaknyamanan pada leher, bukan berarti kebiasaan tersebut menjadi penyebab tortikolis (American Physical Therapy Association [APTA], 2022).
Namun, Mommy juga tidak perlu langsung menganggap Si Kecil mengalami tortikolis hanya karena lebih menyukai satu payudara. Preferensi menyusu juga bisa dipengaruhi oleh berbagai hal lain, seperti:
- aliran ASI yang berbeda antara kedua payudara;
- posisi menyusui yang terasa lebih nyaman;
- bentuk atau ukuran payudara dan puting;
- hidung tersumbat atau infeksi telinga yang membuat posisi tertentu terasa tidak nyaman; atau
- preferensi bayi terhadap posisi tertentu (Gundrathi et al., 2024).
Apa Itu Tortikolis pada Bayi?
Tortikolis adalah kondisi ketika posisi atau gerakan kepala dan leher bayi menjadi tidak simetris. Bayi dapat terlihat lebih sering memiringkan kepala ke satu sisi atau mengalami keterbatasan saat menoleh ke arah tertentu.
Tortikolis bukan hanya memiliki satu penyebab. Salah satu penyebab yang paling sering ditemukan pada bayi adalah congenital muscular torticollis (CMT), yaitu tortikolis yang berkaitan dengan pemendekan atau ketegangan otot sternocleidomastoid (SCM) pada salah satu sisi leher.
Jadi, penting untuk membedakannya: Tortikolis adalah kondisi umumnya, sedangkan CMT merupakan salah satu penyebab tortikolis pada bayi.
Selain CMT, keterbatasan gerak leher juga dapat berkaitan dengan preferensi posisi, gangguan mata, kelainan tulang leher, masalah neurologis, nyeri, infeksi, hingga trauma. Karena penyebabnya beragam, pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab yang sebenarnya.
Penyebab Tortikolis pada Bayi
Secara sederhana, penyebab tortikolis pada bayi dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori:
1. Masalah pada Otot Leher
Pada CMT, salah satu otot SCM menjadi lebih pendek atau tegang sehingga bayi cenderung memiringkan kepala ke satu sisi dan lebih sulit menoleh ke arah sebaliknya.
CMT biasanya sudah ada sejak lahir atau mulai terlihat dalam beberapa minggu pertama kehidupan. Faktor yang diduga berperan antara lain posisi bayi di dalam rahim, ruang gerak yang terbatas, serta faktor yang berkaitan dengan proses persalinan (APTA, 2022; Płomiński et al., 2023).
Beberapa faktor yang lebih sering ditemukan pada bayi dengan CMT antara lain:
- posisi janin tertentu selama kehamilan;
- kehamilan kembar atau kondisi yang membatasi ruang gerak janin;
- persalinan yang sulit; dan
- persalinan dengan bantuan alat seperti vakum atau forceps.
Namun, faktor-faktor tersebut tidak berarti pasti menyebabkan CMT. Bayi dengan riwayat persalinan tertentu belum tentu mengalami tortikolis.
2. Preferensi Posisi dan Gerakan Bayi
Sebagian bayi memiliki positional preference, yaitu kecenderungan untuk melihat, tidur, atau mempertahankan kepala pada satu arah.
Preferensi posisi ini perlu diperhatikan karena jika kepala bayi terus berada pada posisi yang sama, tekanan berulang pada satu sisi kepala dapat meningkatkan risiko positional plagiocephaly, yaitu kondisi ketika bentuk kepala menjadi lebih datar pada salah satu sisi.
Positional preference dan tortikolis dapat ditemukan bersamaan, tetapi keduanya bukan kondisi yang sama. Karena itu, Mommy sebaiknya tidak langsung menganggap bayi mengalami tortikolis hanya karena ia lebih sering melihat ke satu arah.
3. Penyebab Lain yang Perlu Diperiksa
Tidak semua tortikolis pada bayi berasal dari otot SCM. Dalam beberapa kasus, keterbatasan gerak leher dapat berkaitan dengan kondisi lain, seperti:
- gangguan penglihatan atau masalah pada mata;
- kelainan pada tulang belakang atau tulang leher;
- gangguan neurologis;
- nyeri atau infeksi; dan
- cedera atau trauma.
Karena penyebabnya dapat berbeda-beda, bayi yang menunjukkan posisi kepala tidak simetris atau keterbatasan gerak leher sebaiknya diperiksa oleh tenaga kesehatan untuk mengetahui penyebabnya.

Apa Hubungannya dengan Bayi yang Hanya Mau Menyusu di Satu Sisi?
Nah, dari sini hubungan antara tortikolis dan preferensi menyusu menjadi lebih jelas.
Jika bayi mengalami keterbatasan gerak leher, posisi tertentu saat menyusu mungkin terasa lebih nyaman. Akibatnya, Si Kecil bisa menolak payudara yang mengharuskannya menoleh atau memiringkan kepala ke arah yang terasa tidak nyaman.
Mommy bisa memperhatikan apakah Si Kecil juga:
- selalu memiringkan kepala ke arah yang sama;
- sulit menoleh ke salah satu sisi;
- lebih nyaman melihat ke satu arah;
- menangis atau menolak ketika kepalanya diarahkan ke sisi tertentu; atau
- hanya mau menyusu pada payudara yang memungkinkan posisi kepalanya lebih nyaman.
Kalau beberapa tanda tersebut muncul bersamaan, ada baiknya Mommy berkonsultasi dengan dokter atau fisioterapis anak.
Apakah Menyusu Hanya di Satu Sisi Bisa Memengaruhi Produksi ASI?
Walaupun tidak terbukti menyebabkan tortikolis, menyusui hanya dari satu payudara dalam jangka waktu tertentu memang dapat memengaruhi produksi ASI di kedua sisi.
Produksi ASI mengikuti prinsip supply and demand. Payudara yang lebih sering dikosongkan melalui menyusui atau memerah akan mendapatkan lebih banyak stimulasi untuk memproduksi ASI. Sebaliknya, payudara yang jarang dikosongkan dapat mengalami penurunan produksi secara bertahap.
Akibatnya, Mommy mungkin mengalami:
- produksi ASI yang berbeda antara kedua payudara;
- salah satu payudara terasa lebih penuh;
- ukuran payudara tampak lebih besar di satu sisi; atau
- payudara yang jarang dikosongkan lebih mudah mengalami bendungan ASI.
Jika Si Kecil hanya mau menyusu di satu sisi dan payudara lainnya mulai terasa penuh atau tidak nyaman, Mommy bisa tetap mengosongkan payudara tersebut dengan memerah sesuai kebutuhan.
Jika Mommy mulai mengalami payudara bengkak, keras, atau tidak nyaman karena jarang dikosongkan, teknik perawatan yang tepat dapat membantu. Mommy bisa membaca 3 Langkah Pijat Limfatik Payudara agar ASI Lancar Saat Bengkak untuk mengetahui langkah yang dapat dilakukan dengan aman di rumah.
Apa yang Bisa Mommy Lakukan di Rumah?
Jika Si Kecil memang menunjukkan tanda tortikolis, stimulasi di rumah dapat menjadi bagian dari perawatan. Namun, latihan peregangan leher sebaiknya dilakukan sesuai arahan dokter atau fisioterapis, terutama jika bayi sudah didiagnosis mengalami CMT.
Sementara itu, beberapa aktivitas sederhana berikut dapat membantu Si Kecil lebih sering menggunakan kedua sisi tubuhnya.
1. Rutin Lakukan Tummy Time
Tummy time dilakukan ketika bayi dalam kondisi terjaga dan selalu berada dalam pengawasan. Aktivitas ini membantu memperkuat otot leher, bahu, dan punggung sekaligus mendukung perkembangan motoriknya (American Academy of Pediatrics, 2023).
Supaya Si Kecil lebih tertarik, Mommy bisa:
- mengajak bayi berbicara sambil bertatap muka;
- meletakkan mainan favorit di depannya;
- memindahkan mainan secara perlahan ke sisi yang jarang ia lihat; atau
- ikut tengkurap di depan bayi agar ia tertarik mengangkat kepala.
Kalau Mommy ingin mengetahui stimulasi lain untuk membantu perkembangan motorik Si Kecil, bisa membaca Lakukan Stimulasi 5 Gerakan Ini Kalau Gak Mau Bayi Telat Berguling.
2. Ajak Bayi Melihat ke Kedua Sisi
Saat Si Kecil sedang terjaga, Mommy dapat menggunakan suara, wajah, atau mainan untuk menarik perhatiannya ke sisi kanan dan kiri.
Misalnya:
- panggil Si Kecil dari sisi yang jarang ia lihat;
- gerakkan mainan secara perlahan dari tengah ke arah samping; atau
- letakkan benda menarik di sisi yang ingin distimulasi.
Tujuannya bukan memaksa kepala bayi berputar, tetapi memberikan kesempatan agar ia menggunakan kedua sisi leher secara alami.
3. Coba Variasi Posisi Menyusui
Jika Si Kecil menolak salah satu payudara karena posisi kepala terasa tidak nyaman, Mommy dapat mencoba posisi menyusui yang memungkinkan bayi tetap mendapatkan ASI tanpa harus memutar leher secara berlebihan.
A. Football Hold
Posisi football hold atau rugby hold memungkinkan tubuh bayi berada di samping tubuh Mommy.
Cara melakukannya:
- Posisikan tubuh bayi di samping tubuh Mommy dengan kaki mengarah ke belakang.
- Sangga kepala, leher, dan bahu bayi dengan tangan dan lengan.
- Arahkan tubuh bayi ke payudara tanpa memaksa kepalanya berputar.
- Pastikan pelekatan tetap nyaman dan hidung bayi tidak tertutup.
Posisi ini dapat menjadi salah satu pilihan ketika Mommy ingin mengurangi kebutuhan bayi untuk memutar kepala ke arah tertentu.
B. Side-Lying Position
Posisi menyusui sambil berbaring menyamping juga dapat dicoba jika terasa lebih nyaman bagi Mommy dan bayi.
Pastikan:
- bayi berada dalam posisi menghadap Mommy;
- hidung bayi sejajar dengan puting;
- tubuh bayi tetap dekat dan stabil;
- jalan napas bayi tidak tertutup; dan
- posisi dilakukan pada permukaan yang aman.
Untuk keamanan tidur, setelah selesai menyusui Mommy tetap perlu mengikuti rekomendasi tidur aman untuk bayi dan tidak membiarkan bayi tidur tanpa pengawasan dalam posisi atau tempat yang tidak sesuai.
4. Lakukan Latihan Sesuai Anjuran Fisioterapis
Jika Si Kecil telah didiagnosis mengalami CMT, dokter atau fisioterapis anak dapat memberikan latihan peregangan dan stimulasi yang disesuaikan dengan kondisi bayi.
Mommy perlu:
- mengikuti frekuensi latihan yang diberikan;
- melakukan latihan ketika bayi dalam kondisi tenang;
- tidak memaksa leher bayi bergerak melebihi batas yang dianjurkan;
- menghentikan latihan jika bayi tampak kesakitan; dan
- melakukan kontrol sesuai jadwal untuk memantau perkembangannya.
Penanganan yang dimulai lebih dini umumnya memberikan hasil yang lebih baik pada bayi dengan CMT (APTA, 2022; Płomiński et al., 2023).
Kapan Bayi Perlu Dibawa ke Dokter?
Jangan menunggu sampai Si Kecil semakin sulit bergerak jika Mommy sudah melihat tanda yang mencurigakan.
Sebaiknya konsultasikan ke dokter jika:
- kepala bayi terus-menerus miring ke satu sisi;
- bayi sulit menoleh ke kanan atau kiri;
- terdapat perbedaan gerakan leher yang cukup jelas;
- bayi selalu melihat ke satu arah;
- bentuk kepala mulai terlihat datar pada salah satu sisi;
- Si Kecil selalu menolak salah satu payudara dan tampak kesulitan memutar kepala;
- terdapat benjolan atau perubahan pada otot leher; atau
- Mommy melihat keterlambatan perkembangan motorik.
Pemeriksaan penting dilakukan karena tortikolis memiliki berbagai kemungkinan penyebab. Dokter dapat membantu menentukan apakah kondisi tersebut berkaitan dengan CMT, positional preference, atau penyebab lain yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Kesimpulan
Kalau Si Kecil hanya mau menyusu di satu payudara, jangan langsung menganggap kebiasaan tersebut menyebabkan tortikolis, ya, Mommy.
Tortikolis adalah kondisi yang memiliki berbagai kemungkinan penyebab. CMT merupakan salah satu penyebabnya dan berkaitan dengan otot SCM, sementara kondisi lain dapat berkaitan dengan preferensi posisi, gangguan mata, tulang leher, neurologis, nyeri, infeksi, atau trauma.
Sebaliknya, bayi dengan tortikolis justru bisa memilih satu payudara karena posisi tersebut terasa lebih nyaman untuk lehernya.
Jadi, perhatikan juga apakah Si Kecil sering memiringkan kepala, sulit menoleh ke satu arah, atau menunjukkan tanda tidak nyaman saat menyusu. Jika ada, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter atau fisioterapis anak agar penyebabnya bisa diketahui sejak dini.
Untuk masalah posisi menyusui atau bayi yang hanya mau menyusu di satu sisi, Mommy juga bisa mendapatkan pendampingan dari Konselor Menyusui Mom Uung agar posisi dan pelekatan dapat disesuaikan dengan kebutuhan Si Kecil.
Sumber
- American Academy of Pediatrics. (2023). Back to sleep, tummy to play. HealthyChildren.org. https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/sleep/Pages/back-to-sleep-tummy-to-play.aspx
- American Physical Therapy Association. (2022). Physical therapy guide to torticollis. ChoosePT. https://www.choosept.com/guide/physical-therapy-guide-torticollis
- Gundrathi, J., Cunha, B., & Tiwari, V. (2024). Congenital torticollis. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK549778/
- Hoyt-Austin, A. E., Kair, L. R., Larson, I. A., Stehel, E. K., & Academy of Breastfeeding Medicine (2022). Academy of Breastfeeding Medicine Clinical Protocol #2: Guidelines for Birth Hospitalization Discharge of Breastfeeding Dyads, Revised 2022. Breastfeeding medicine : the official journal of the Academy of Breastfeeding Medicine, 17(3), 197-206. https://doi.org/10.1089/bfm.2022.29203.aeh
- La Leche League International. (2026). Positioning and latch. https://llli.org/breastfeeding-info/positioning/
- Płomiński, J., Olesińska, J., Kamelska-Sadowska, A. M., Nowakowski, J. J., & Zaborowska-Sapeta, K. (2023). Congenital Muscular Torticollis-Current Understanding and Perinatal Risk Factors: A Retrospective Analysis. Healthcare (Basel, Switzerland), 12(1), 13. https://doi.org/10.3390/healthcare12010013
Artikel Terkait
Mommin
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.









