Kurma Bisa Bikin ASI Lebih Banyak? Ini Faktanya

Momuung.com – Pernah nggak, Mommy merasa khawatir karena Si Kecil masih sering menangis setelah menyusu atau merasa ASI yang keluar belum cukup? Di tengah rasa cemas itu, mungkin Mommy pernah dengar saran, “Coba rutin makan kurma, katanya bisa bikin ASI lebih lancar.”
Tapi, benarkah kurma bisa meningkatkan produksi ASI? Atau sebenarnya manfaat kurma untuk ASI masih sebatas mitos? Yuk, Mommy, cari tahu fakta ilmiahnya sekaligus cara yang tepat untuk membantu mengoptimalkan produksi ASI.
DAFTAR ISI
Kurma Bisa Bantu Tingkatkan Produksi ASI? Ini Faktanya
Kurma sering disebut sebagai salah satu makanan yang dipercaya dapat membantu meningkatkan produksi ASI. Namun, benarkah kurma bisa menjadi ASI booster? Sebelum rutin mengonsumsinya dengan harapan ASI makin deras, yuk kenali kandungan kurma dan lihat apa kata penelitian tentang manfaatnya untuk produksi ASI.
1. Kandungan Kurma dan Kaitannya dengan Produksi ASI
Kurma mengandung karbohidrat alami, serat, serta berbagai mineral seperti kalium dan magnesium. Kandungan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi Mommy selama masa menyusui. Namun, meskipun kurma memiliki kandungan gizi yang baik, mengonsumsinya saja tidak serta-merta membuat produksi ASI menjadi lebih banyak.
Dalam ilmu laktasi, makanan atau zat yang dipercaya dapat membantu meningkatkan produksi ASI disebut galaktagog (galactagogue). Namun, galaktagog tidak dapat menggantikan peran utama manajemen laktasi. Produksi ASI tetap sangat dipengaruhi oleh stimulasi payudara dan pengosongan payudara yang efektif dan rutin, baik melalui proses menyusui langsung maupun pemerahan ASI.
Artinya, kurma dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi selama menyusui, tetapi sebaiknya tidak dianggap sebagai satu-satunya cara untuk meningkatkan produksi ASI.
2. Apa Kata Penelitian tentang Kurma dan ASI?
Salah satu randomized controlled trial oleh Modepeng et al. (2021) melibatkan 48 ibu menyusui dengan bayi berusia 1-3 bulan. Kelompok intervensi mengonsumsi 10 buah kurma per hari selama 4 minggu, kemudian jumlah ASI diukur pada awal penelitian, minggu ke-2, dan minggu ke-4.
Hasilnya menunjukkan bahwa jumlah ASI pada kelompok yang mengonsumsi kurma meningkat sekitar:
- 11% pada minggu ke-2 dibandingkan kondisi awal.
- 23% pada minggu ke-4 dibandingkan kondisi awal.
Jumlah ASI kelompok konsumsi kurma juga lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Namun, penelitian ini memiliki jumlah peserta yang relatif kecil dan tidak menemukan perbedaan status gizi bayi antara kedua kelompok. Jadi, hasilnya menunjukkan potensi kurma untuk membantu meningkatkan volume ASI, tetapi belum cukup untuk menyatakan bahwa kurma pasti meningkatkan produksi ASI pada setiap Mommy (Modepeng et al., 2021).
Karena itu, kalau Mommy suka makan kurma, boleh menjadikannya bagian dari pola makan bergizi selama menyusui. Tetapi, jangan hanya mengandalkan kurma ketika merasa ASI kurang.

ASI Lancar Tidak Hanya Bergantung dari Makanan
Kurma dan makanan bergizi lainnya tentu boleh menjadi bagian dari pola makan Mommy selama menyusui. Namun, makanan saja bukan satu-satunya faktor yang menentukan produksi ASI. Salah satu hal yang paling berpengaruh adalah seberapa sering dan efektif ASI dikeluarkan dari payudara.
Jadi, selain menjaga asupan nutrisi, Mommy juga perlu memastikan proses menyusui berjalan efektif. Yuk, perhatikan dua hal penting berikut!
1. Pastikan Posisi dan Pelekatan (Latch) Sudah Tepat
Produksi ASI sangat berkaitan dengan seberapa efektif ASI dikeluarkan dari payudara. Saat bayi dapat melekat (latch) dengan dalam dan menyusu secara efektif, ASI lebih mudah dikeluarkan sekaligus memberikan stimulasi pada payudara untuk terus memproduksi ASI (La Leche League International [LLLI], 2026).
Karena itu, Mommy nggak perlu terpaku pada satu posisi menyusui. Cradle hold, cross-cradle, football hold, side-lying, maupun laid-back position bisa digunakan selama Mommy dan Si Kecil sama-sama nyaman. Yang terpenting, tubuh bayi menghadap ke tubuh Mommy dan bayi berada cukup dekat dengan payudara sehingga ia bisa melakukan pelekatan yang dalam.
Saat Si Kecil mulai menyusu, perhatikan juga tanda bahwa latch-nya sudah baik:
- Mulut bayi terbuka lebar dan melekat pada payudara dengan baik. Sebagian besar area puting dan areola masuk ke dalam mulut bayi, dengan bagian bawah areola cenderung lebih banyak tertarik masuk dibandingkan bagian atas.
- Dagu bayi menyentuh payudara. Kepala bayi sedikit menengadah sehingga hidung tetap memiliki ruang dan tidak tertekan oleh payudara.
- Bayi dapat mengisap, menelan, dan bernapas dengan nyaman. Ritmenya terlihat teratur tanpa tanda bayi kesulitan mengikuti aliran ASI.
- Terdengar suara bayi menelan. Setelah beberapa kali mengisap, Mommy biasanya dapat mendengar suara menelan saat ASI masuk.
- Mommy merasa nyaman saat menyusui. Latch yang baik tidak seharusnya menimbulkan nyeri yang menetap, puting terasa terjepit, atau semakin lecet setelah menyusu.
Sebaliknya, jika bayi hanya mengisap puting, sering terlepas, terdengar suara clicking atau smacking, pipinya tampak berlekuk saat mengisap, atau puting Mommy terasa terjepit, pipih, maupun sangat sakit setelah menyusu, posisi dan latch perlu dievaluasi kembali. Latch yang dangkal (shallow latch) dapat membuat bayi lebih sulit mengeluarkan ASI dan menyebabkan puting Mommy terasa nyeri.
Mommy juga sebaiknya menawarkan payudara sejak muncul tanda lapar awal (early hunger cues), tanpa perlu menunggu Si Kecil sampai menangis kencang. Beberapa tandanya antara lain:
- Memasukkan tangan ke mulut.
- Mengecap atau menjilat bibir.
- Menoleh mencari payudara.
- Mulai terbangun atau terlihat mulai aktif bergerak.
Menangis dan rewel justru termasuk tanda lapar yang sudah lebih lanjut. Saat bayi sudah sangat rewel, ia bisa menjadi lebih sulit untuk dilekatkan ke payudara. Jadi, semakin cepat Mommy mengenali feeding cues, semakin mudah memberikan kesempatan Si Kecil untuk menyusu dengan tenang (LLLI, 2026).
2. Jaga Stimulasi ASI dan Jangan Ragu Minta Bantuan
Kalau Mommy ingin menjaga produksi ASI, salah satu hal terpenting adalah memastikan ASI tetap dikeluarkan secara rutin. Saat Si Kecil belum bisa menyusu langsung, Mommy bisa melakukan hand expression atau memompa ASI. Prinsipnya, semakin rutin ASI dikeluarkan, semakin sering pula payudara mendapatkan sinyal untuk terus memproduksi ASI (Centers for Disease Control and Prevention [CDC], 2024).
Lalu, bagaimana cara tahu Si Kecil mendapatkan ASI yang cukup? Selain melihat kenaikan berat badan, Mommy bisa memperhatikan beberapa tanda berikut:
- Frekuensi menyusu: bayi baru lahir umumnya menyusu sekitar 8-12 kali dalam 24 jam.
- Pipis: pada beberapa hari pertama, jumlah popok basah memang masih sedikit dan meningkat seiring bertambahnya usia bayi. Setelah bayi berusia sekitar 6 hari, umumnya terdapat setidaknya 6 popok basah per hari.
- BAB: frekuensi BAB juga berubah sesuai usia. Pada hari-hari pertama, feses bayi akan berubah dari mekonium yang hitam dan lengket menjadi lebih hijau, lalu kuning. Pada akhir minggu pertama, bayi yang mendapatkan ASI dengan baik umumnya BAB beberapa kali sehari.
- Saat menyusu: Mommy dapat melihat atau mendengar bayi menelan dan bayi tampak lebih tenang setelah menyusu.
- Berat badan: berat badan bayi seharusnya dipantau secara berkala untuk memastikan pertumbuhannya berjalan sesuai harapan (CDC, 2024).
Namun, jangan hanya berpatokan pada satu tanda saja ya, Mommy. Jumlah pipis dan BAB dapat berbeda pada setiap bayi, terutama setelah beberapa minggu pertama. Karena itu, frekuensi popok sebaiknya dilihat bersama tanda lainnya, seperti pola menyusu, tanda bayi mendapatkan ASI, dan perkembangan berat badannya.
Jika Si Kecil menyusu kurang dari 8 kali sehari, sulit melekat, tidak terdengar menelan, tetap tampak lapar setelah menyusu, jumlah popok basah lebih sedikit dari yang diharapkan, atau berat badannya sulit naik, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter laktasi atau konselor menyusui. Evaluasi langsung dapat membantu mengetahui apakah ada kendala pada pelekatan, transfer ASI, atau faktor lainnya (CDC, 2024).
Tips Mengonsumsi Kurma untuk ibu menyusui
Jadi, tetap boleh nggak Mommy yang sedang menyusui makan kurma? Tentu boleh! Kurma dapat menjadi salah satu pilihan buah atau camilan dalam pola makan yang beragam.
Meski penelitian menunjukkan potensi kurma dalam membantu meningkatkan volume ASI, bukti yang tersedia masih terbatas. Jadi, Mommy tetap tidak perlu menjadikan kurma sebagai satu-satunya andalan untuk melancarkan ASI (Modepeng et al., 2021).
Kalau Mommy ingin menikmati kurma selama menyusui, perhatikan beberapa hal berikut:
1. Tidak Ada Porsi Wajib untuk Melancarkan ASI
Belum ada rekomendasi medis yang menetapkan jumlah kurma tertentu untuk meningkatkan produksi ASI. Dalam penelitian Modepeng et al. (2021), ibu menyusui mengonsumsi 10 butir kurma per hari selama 4 minggu dan menunjukkan peningkatan volume ASI. Namun, angka tersebut merupakan bagian dari protokol penelitian, bukan berarti semua Mommy harus mengonsumsi 10 butir setiap hari.
Untuk camilan sehari-hari, 3-5 butir kurma bisa menjadi pilihan porsi yang praktis, terutama jika Mommy juga mendapatkan karbohidrat dan gula alami dari makanan lain. Jumlahnya tetap bisa disesuaikan dengan kebutuhan energi, pola makan, dan kondisi kesehatan masing-masing.
Jadi, tidak perlu memaksakan diri makan banyak kurma hanya karena ingin ASI lebih lancar ya, Mom. Lebih banyak kurma bukan berarti produksi ASI otomatis semakin banyak.
2. Tidak Ada Waktu Khusus yang Terbukti Paling Efektif
Sampai saat ini, belum ada bukti kuat bahwa mengonsumsi kurma pada waktu tertentu, misalnya 30 menit sebelum menyusui atau pumping, dapat meningkatkan produksi ASI lebih banyak.
Mommy bisa menikmati kurma kapan saja sebagai bagian dari menu harian, misalnya sebagai camilan di antara waktu makan, dicampurkan ke oatmeal, yoghurt, atau smoothies tanpa tambahan gula berlebihan.
Yang lebih penting daripada menentukan waktu makannya adalah memastikan pola makan Mommy tetap beragam dan kebutuhan nutrisi selama menyusui terpenuhi.
3. Perhatikan Porsinya Jika Mommy Punya Diabetes
Kurma memang mengandung gula alami, tetapi juga termasuk buah kering yang kandungan karbohidratnya lebih terkonsentrasi dalam porsi kecil. Karena itu, Mommy yang memiliki diabetes, resistensi insulin, atau pernah mengalami diabetes gestasional sebaiknya lebih memperhatikan jumlah kurma yang dikonsumsi.
Tidak berarti Mommy harus menghindari kurma sepenuhnya. Porsinya sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan karbohidrat dan kondisi gula darah Mommy. Jika sedang menjalani pengaturan gula darah atau mengonsumsi obat tertentu, konsultasikan porsi yang sesuai dengan dokter atau ahli gizi.
4. Nikmati Kurma dengan Cara yang Mommy Suka
Kurma tidak harus dikonsumsi dengan cara tertentu untuk mendapatkan manfaat nutrisinya. Mommy bisa menikmatinya langsung atau mencampurkannya ke dalam:
- Susu
- Oatmeal.
- Yoghurt.
- Smoothies tanpa tambahan gula berlebihan.
- Camilan bersama kacang-kacangan atau sumber protein lainnya.
Yang penting, kurma tetap menjadi bagian dari pola makan yang beragam, bukan satu-satunya sumber nutrisi Mommy.
Kesimpulan
Jadi, Mommy tetap boleh makan kurma selama menyusui. Kurma bisa menjadi pilihan camilan bergizi untuk membantu memenuhi kebutuhan energi sehari-hari. Penelitian juga menunjukkan adanya potensi kurma dalam mendukung produksi ASI, tetapi bukti yang tersedia masih terbatas sehingga kurma belum bisa dianggap sebagai ASI booster yang pasti efektif untuk semua Mommy.
Yang perlu diingat, ASI lancar tidak hanya bergantung pada makanan tertentu. Pastikan Si Kecil menyusu dengan pelekatan yang tepat dan ASI dikeluarkan secara rutin sesuai kebutuhannya. Jika Mommy merasa produksi ASI kurang, Si Kecil sulit melekat, atau proses menyusui terasa tidak nyaman, jangan buru-buru menyalahkan pola makan. Bisa jadi ada hal lain dalam proses menyusui yang perlu dievaluasi.
Jadi, yuk nikmati kurma sebagai bagian dari pola makan yang beragam dan bergizi, tanpa menjadikannya satu-satunya andalan untuk melancarkan ASI. Kalau Mommy masih punya pertanyaan atau mengalami kendala menyusui, jangan ragu konsultasikan langsung bersama Konselor Menyusui Mom Uung agar Mommy mendapatkan pendampingan yang sesuai dengan kondisi Mommy dan Si Kecil.
Sumber
- Modepeng, T., Pavadhgul, P., Bumrungpert, A., & Kitipichai, W. (2021). The Effects of Date Fruit Consumption on Breast Milk Quantity and Nutritional Status of Infants. Breastfeeding medicine : the official journal of the Academy of Breastfeeding Medicine, 16(11), 909-914. https://doi.org/10.1089/bfm.2021.0031
- La Leche League International. (2026). Breastfeeding positions, latch, and positioning. La Leche League International. https://llli.org/breastfeeding-info/positioning/
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Newborn breastfeeding basics. Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/infant-toddler-nutrition/breastfeeding/newborn-basics.html
Artikel Terkait
Mommin
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.









