Rough and Tumble Play: Manfaat dan Cara Aman Bermain dengan Anak

Momuung.com – Pernah nggak, Mommy merasa deg-degan saat melihat Ayah bermain fisik dengan Si Kecil? Mulai dari mengangkat, mengayun, menggulingkan di kasur, hingga bermain kejar-kejaran yang terlihat cukup heboh.
Rasa khawatir seperti ini wajar, apalagi Mommy pasti ingin memastikan Si Kecil selalu aman. Namun, selama dilakukan dengan cara yang tepat dan sesuai usia, permainan fisik tersebut justru bisa memberikan manfaat untuk tumbuh kembang anak. Aktivitas seperti ini dikenal sebagai rough and tumble play, yaitu permainan aktif yang melibatkan gerakan fisik antara anak dan orang tua.
Lantas, apa saja Manfaat rough and tumble play dan bagaimana cara melakukannya dengan aman? Yuk, baca artikel selengkapnya dan temukan panduannya di sini.
DAFTAR ISI
- Mengenal Apa Itu Rough-and-Tumble Play
- Apa Manfaat Rough-and-Tumble Play?
- Batasan Usia dan Panduan Keamanan Rough-and-Tumble Play
- Rough-and-Tumble Play Bukan Berarti Bermain Kasar
- Jadi, Bolehkah Ayah Bermain Rough-and-Tumble dengan Anak?
- Bagaimana Mengetahui Anak Masih Menikmati Permainannya?
- Kesimpulan
- Sumber
Mengenal Apa Itu Rough-and-Tumble Play
Pernah melihat Ayah bermain dengan Si Kecil dengan cara yang lebih aktif? Misalnya bermain kejar-kejaran, berguling bersama, bergulat ringan di tempat yang aman, bermain “pesawat”, atau berpura-pura menjadi monster yang mengejar anak?
Permainan seperti ini termasuk rough-and-tumble play (RTP), yaitu bentuk permainan fisik yang melibatkan gerakan aktif, kontak tubuh, dan tantangan ringan dalam suasana yang menyenangkan.
Meski namanya terdengar seperti “bermain kasar”, RTP bukan berarti anak boleh diperlakukan kasar atau dibuat merasa takut dan kesakitan. Yang membedakan RTP dari permainan fisik yang tidak aman adalah adanya interaksi yang menyenangkan, hangat, dan responsif terhadap anak.
Beberapa contoh permainan yang bisa dilakukan antara lain:
- Bermain kejar-kejaran.
- Berguling bersama di permukaan yang aman.
- Bermain “pesawat” dengan gerakan yang terkontrol.
- Bergulat ringan di area yang aman.
- Bermain “monster” dan mengejar Si Kecil.
- Menari atau bergerak bersama mengikuti musik.
Penelitian mengenai father-child play menunjukkan bahwa keterlibatan Ayah dalam bermain berkaitan dengan berbagai aspek perkembangan anak, termasuk aspek sosial, emosional, perilaku, dan kognitif. Namun, manfaat tersebut tidak berarti setiap jenis permainan fisik otomatis memberikan hasil yang sama. Jenis permainan dan kualitas interaksi antara Ayah dan anak juga ikut berperan (Robinson et al., 2021).
Apa Manfaat Rough-and-Tumble Play?
Kalau dilakukan dengan tepat, permainan aktif bersama Ayah dapat menjadi kesempatan bagi Si Kecil untuk bergerak, mengenali respons tubuh dan emosinya, sekaligus membangun interaksi yang positif dengan orang tua.
1. Membantu Anak Mengenali Respons Tubuh dan Emosi
Saat bermain aktif, anak bisa merasakan berbagai emosi sekaligus. Ia mungkin merasa senang, antusias, kaget, atau sedikit tegang.
Pengalaman tersebut dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar mengenali apa yang terasa nyaman dan tidak nyaman bagi tubuhnya. Misalnya, anak mulai memahami kapan ia masih ingin bermain dan kapan ia sudah lelah atau ingin berhenti.
Di sinilah peran Ayah menjadi penting. Ayah perlu memperhatikan respons Si Kecil selama permainan, bukan hanya mengikuti permainan sesuai keinginannya sendiri.
Misalnya, apakah Si Kecil:
- terlihat senang dan antusias;
- tertawa atau tersenyum;
- aktif mengikuti permainan;
- kembali mendekati Ayah setelah permainan berhenti;
- atau justru mulai menjauh, menangis, dan meminta berhenti?
Respons tersebut dapat membantu Ayah menyesuaikan intensitas permainan dengan kondisi anak. Penelitian tentang father-child play juga menunjukkan bahwa kualitas interaksi dalam permainan ikut berhubungan dengan perkembangan sosial dan emosional anak (Robinson et al., 2021).
Selain memperhatikan respons emosional, orang tua juga bisa memberikan kesempatan bagi Si Kecil untuk mengenal kemampuan tubuhnya melalui aktivitas fisik yang sesuai tahap perkembangannya. Untuk bayi yang sedang mempersiapkan diri menuju fase merangkak, misalnya, ada berbagai aktivitas sederhana yang dapat membantu melatih kekuatan dan koordinasi tubuh. Mommy bisa melihat panduan 4 Aktivitas untuk Menguatkan Otot Bayi Sebelum Merangkak untuk mengetahui beberapa stimulasi yang dapat dilakukan sesuai kemampuan Si Kecil.
Jadi, bukan sekadar “main fisik”, tetapi bagaimana Ayah dan anak saling membaca dan merespons selama bermain.
2. Membuat Anak Lebih Aktif Bergerak
RTP juga bisa menjadi cara menyenangkan untuk membuat Si Kecil aktif bergerak dalam kesehariannya.
Saat bermain, anak mungkin berlari, mengejar, menghindar, berguling, melompat, atau berpindah posisi. Gerakan sederhana seperti ini dapat menjadi bagian dari aktivitas fisik anak.
WHO menjelaskan bahwa aktivitas fisik pada anak berperan dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang sehat, termasuk perkembangan motorik dan kognitif (World Health Organization, 2024).
Aktivitas fisik anak pun tidak harus selalu berupa olahraga formal. Bermain di lantai, menari, berjalan, bermain kejar-kejaran, atau melakukan permainan fisik sesuai usia juga dapat menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Karena itu, Ayah tidak perlu membuat permainan semakin ekstrem agar Si Kecil semakin aktif. Permainan sederhana yang aman dan sesuai kemampuan anak sudah cukup untuk membuatnya bergerak sekaligus menikmati waktu bersama.
3. Menjadi Ruang untuk Membangun Kedekatan Ayah dan Anak
Setiap orang tua memiliki gaya bermain yang berbeda. Mommy mungkin lebih nyaman membacakan buku, menggambar, bernyanyi, atau bermain dengan mainan, sementara Ayah mungkin lebih suka bermain aktif bersama Si Kecil.
Keduanya tidak perlu dibandingkan. Yang lebih penting adalah kualitas interaksi selama bermain.
Ketika Ayah benar-benar hadir, mengikuti permainan anak, tertawa bersama, merespons sinyalnya, dan memberikan kesempatan kepada anak untuk menentukan kapan ingin berhenti, aktivitas tersebut bisa menjadi momen untuk membangun hubungan yang positif.
Systematic review mengenai father-child play menemukan adanya hubungan antara permainan Ayah dan anak dengan berbagai aspek perkembangan, meskipun hasilnya dapat berbeda tergantung jenis permainan dan kualitas interaksi yang terjadi (Robinson et al., 2021).
Artinya, Ayah tidak harus selalu melakukan rough-and-tumble play untuk membangun kedekatan dengan Si Kecil. Yang terpenting adalah hadir, terlibat, dan responsif saat bermain.

Batasan Usia dan Panduan Keamanan Rough-and-Tumble Play
Bentuk permainan fisik juga perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan Si Kecil. Semakin kecil usia anak, semakin penting bagi Ayah dan Mommy untuk memilih aktivitas yang lembut, terkontrol, dan tidak memberikan risiko pada kepala maupun leher.
Bayi di Bawah 1 Tahun
Pada bayi, aktivitas fisik tetap penting, tetapi bentuknya berbeda dari rough-and-tumble play pada anak yang lebih besar.
WHO merekomendasikan bayi aktif beberapa kali sepanjang hari melalui berbagai bentuk permainan, terutama interactive floor-based play. Untuk bayi yang belum bisa bergerak sendiri, WHO juga merekomendasikan tummy time setidaknya 30 menit secara kumulatif sepanjang hari saat bayi terjaga dan diawasi (World Health Organization, 2020).
Ayah dan Mommy bisa mengajak bayi bermain melalui aktivitas sederhana seperti:
- Tummy time, dengan bayi tengkurap di permukaan yang aman dan selalu dalam pengawasan.
- Bermain sambil berinteraksi, misalnya mengajak bayi berbicara, tersenyum, bernyanyi, atau mengikuti ekspresinya.
- Bermain di pangkuan, dengan gerakan lembut sambil menopang tubuh dan kepala bayi.
- Mengajak bayi bergerak, seperti membantu bayi meraih mainan atau melakukan gerakan lembut sesuai tahap perkembangannya.
Yang perlu dihindari adalah permainan dengan gerakan keras, melempar bayi ke udara, atau mengguncang tubuh bayi.
Guncangan keras dapat menyebabkan abusive head trauma, yaitu cedera serius pada otak akibat guncangan keras dan/atau benturan. Bayi, terutama yang masih sangat kecil, termasuk kelompok yang rentan mengalami cedera ini (Centers for Disease Control and Prevention, 2024).
Jadi, pada bayi, fokus permainan bukan membuat aktivitas semakin heboh, tetapi memberikan kesempatan untuk bergerak, bereksplorasi, dan berinteraksi dengan orang tua secara aman.
Anak Usia 1 Tahun ke Atas
Memasuki usia toddler, Si Kecil biasanya mulai semakin aktif berjalan, berlari, memanjat, dan mengeksplorasi lingkungan. WHO merekomendasikan anak usia 1 sampai 2 tahun melakukan setidaknya 180 menit aktivitas fisik dengan berbagai intensitas sepanjang hari (World Health Organization, 2020).
Aktivitas tersebut tidak harus berupa olahraga formal. Bermain kejar-kejaran, berjalan, menari, berguling, atau permainan fisik sederhana bersama Ayah juga dapat menjadi bagian dari aktivitas fisik sehari-hari.
Namun, usia 1 tahun bukan berarti anak otomatis siap melakukan semua jenis rough-and-tumble play. Pilihan permainan tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan motorik dan kondisi masing-masing anak.
Agar tetap aman, perhatikan beberapa hal berikut:
- Pilih permainan yang sesuai dengan kemampuan motorik anak.
- Pastikan area bermain bebas dari benda keras, sudut tajam, tangga, atau permukaan licin.
- Hindari aktivitas yang berisiko membuat anak jatuh atau terbentur.
- Jangan melempar atau mengayun anak dengan gerakan yang sulit dikontrol.
- Lindungi kepala dan leher dari benturan atau tekanan berlebihan.
- Perhatikan respons anak selama permainan.
- Hentikan permainan ketika anak meminta berhenti atau menunjukkan tanda tidak nyaman.
Rough-and-Tumble Play Bukan Berarti Bermain Kasar
Meski namanya terdengar seperti “bermain kasar”, rough-and-tumble play (RTP) bukan berarti Ayah boleh bermain sekeras-kerasnya dengan Si Kecil. Ada perbedaan antara permainan fisik yang seru dengan aktivitas yang membuat anak kesakitan, ketakutan, atau kehilangan rasa aman.
Kuncinya ada pada cara bermain dan respons anak selama permainan berlangsung. Ayah boleh mengajak Si Kecil bergerak aktif, tetapi tetap perlu memastikan gerakannya sesuai dengan usia dan kemampuan anak.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat bermain:
- Pastikan anak menikmati permainannya. Tertawa, tersenyum, atau kembali mengajak bermain bisa menjadi tanda bahwa anak merasa nyaman. Sebaliknya, menangis, takut, menjauh, atau mengatakan “stop” berarti permainan perlu dihentikan.
- Berikan anak kesempatan untuk menentukan batas. Kalau Si Kecil sudah bilang tidak mau atau ingin berhenti, Ayah perlu menghargainya. Ini juga membantu anak belajar bahwa ia berhak menyampaikan ketika tubuhnya merasa tidak nyaman.
- Sesuaikan gerakan dengan usia dan kemampuan anak. Permainan untuk toddler tentu tidak bisa disamakan dengan anak usia sekolah. Semakin kecil anak, semakin sederhana dan terkontrol gerakannya.
Untuk bayi yang masih terlalu kecil untuk melakukan permainan fisik aktif, stimulasi tetap bisa diberikan melalui aktivitas yang lebih lembut dan sesuai tahap perkembangannya. Misalnya, Mommy dan Ayah dapat memilih mainan yang membantu bayi bereksplorasi menggunakan penglihatan, pendengaran, sentuhan, sekaligus melatih kemampuan motoriknya. Yuk, cari tahu pilihannya lewat artikel “4 Rekomendasi Mainan Bayi 0-6 Bulan untuk Melatih Sensorik dan Motoriknya”.
- Perhatikan lingkungan bermain. Pilih area yang cukup luas dan jauh dari tangga, sudut meja, benda keras, atau permukaan licin yang dapat meningkatkan risiko cedera.
- Hindari gerakan yang sulit dikontrol. Jangan mengguncang, melempar, atau mengayun anak dengan keras. Gerakan yang memberikan benturan atau tekanan berlebihan pada kepala dan leher juga perlu dihindari.
- Jangan jadikan permainan sebagai bentuk hukuman atau menakut-nakuti anak. RTP seharusnya tetap menjadi pengalaman bermain yang menyenangkan dan aman, bukan cara untuk mendisiplinkan anak.
WHO juga membedakan permainan fisik dengan hukuman fisik. Hukuman fisik tidak memberikan manfaat bagi perkembangan anak dan justru berkaitan dengan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental serta perkembangan anak (World Health Organization, 2025).
Jadi, Bolehkah Ayah Bermain Rough-and-Tumble dengan Anak?
Boleh, selama dilakukan dengan aman, sesuai usia, menyenangkan, dan responsif terhadap anak.
RTP bukan permainan yang wajib dilakukan setiap keluarga dan bukan satu-satunya cara untuk mendukung tumbuh kembang anak. Bukti penelitian lebih tepat menunjukkan bahwa permainan Ayah dan anak berkaitan dengan berbagai aspek perkembangan, sementara hasilnya dapat dipengaruhi oleh jenis permainan dan kualitas interaksi yang terjadi (Robinson et al., 2021).
Ayah juga tidak perlu membuat permainan semakin ekstrem. Bermain kejar-kejaran, berguling bersama di permukaan yang aman, bermain “pesawat” dengan gerakan terkontrol, menari, atau berpura-pura menjadi monster yang mengejar Si Kecil sudah bisa menjadi momen untuk bergerak, bereksplorasi, dan menikmati waktu bersama.
Pada akhirnya, rough-and-tumble play bukan tentang seberapa kasar Ayah bermain, tetapi tentang bagaimana Ayah dan anak bisa bergerak, tertawa, bereksplorasi, dan menikmati waktu bersama dalam suasana yang aman.
Bagaimana Mengetahui Anak Masih Menikmati Permainannya?
Salah satu kunci permainan fisik yang aman adalah membaca respons Si Kecil.
Anak kemungkinan masih menikmati permainan jika ia:
- tertawa atau tersenyum;
- terlihat rileks dan antusias;
- aktif mengikuti permainan;
- kembali mendekati Ayah setelah permainan berhenti;
- meminta permainan dilanjutkan.
Sebaliknya, Ayah perlu berhenti atau mengurangi intensitas permainan jika anak:
- menangis atau terlihat takut;
- berusaha menjauh;
- mengatakan “tidak mau” atau “stop”;
- terlihat kesakitan atau terlalu lelah;
- menunjukkan perubahan perilaku yang menandakan dirinya tidak nyaman.
Dengan cara ini, permainan juga bisa menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar bahwa tubuhnya memiliki batas dan ia boleh menyampaikan ketika merasa tidak nyaman.
Kesimpulan
Jadi, Mommy tidak perlu langsung khawatir ketika melihat gaya bermain Ayah yang lebih aktif. Selama permainannya sesuai usia, aman, dan Si Kecil tetap nyaman, aktivitas fisik bersama Ayah bisa menjadi cara seru untuk bergerak sekaligus membangun kedekatan.
Yang paling penting bukan seberapa heboh permainannya, tetapi bagaimana Ayah hadir, memperhatikan respons Si Kecil, dan tahu kapan harus berhenti.
Yuk, beri Ayah ruang untuk punya waktu bermain bersama Si Kecil dengan caranya sendiri. Semoga Mommy dan Ayah semakin percaya diri menemukan aktivitas yang paling nyaman dan menyenangkan untuk Si Kecil.
Kalau Mommy masih punya pertanyaan seputar tumbuh kembang, stimulasi, atau menyusui, Mom Uung siap menemani perjalanan Mommy dan keluarga.
Sumber
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About abusive head trauma. https://www.cdc.gov/child-abuse-neglect/about/about-abusive-head-trauma.html
- Robinson, E. L., StGeorge, J., & Freeman, E. E. (2021). A Systematic Review of Father-Child Play Interactions and the Impacts on Child Development. Children (Basel, Switzerland), 8(5), 389. https://doi.org/10.3390/children8050389
- World Health Organization. (2024). Physical activity. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/physical-activity
- World Health Organization. (2026). Corporal punishment and health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/corporal-punishment-and-health
Artikel Terkait
Tumbuh Kembang28 Mei 2026
5 Risiko Bayi Tidur dengan Mulut Terbuka yang Sering Tidak Disadari Orang Tua
Tumbuh Kembang9 Juli 2026
Kenapa Bayi Perlu Diajak Bicara Saat Ganti Popok? Ini Manfaat Pentingnya
Tumbuh Kembang6 Agustus 2026
Kumpulan Doa untuk Anak Lengkap Arab, Latin & Artinya, agar Shaleh dan Sehat
Mommin
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.






