Cara Membedong Bayi Baru Lahir dengan Teknik Hands-Up

Momuung.com – Cara memBedong bayi sering menjadi salah satu cara yang dilakukan orang tua agar Si Kecil tidur lebih nyenyak. Namun, bagaimana jika bayi justru menangis, berontak, atau tidak mau dibedong? Tenang ya, Mommy. Kondisi ini cukup sering terjadi dan bukan berarti Si Kecil tidak suka dibedong. Bisa jadi, cara membedong yang digunakan belum sesuai dengan posisi alami tubuh bayi sehingga ia merasa kurang nyaman.
Yuk, cari tahu penyebab bayi tidak mau dibedong serta cara membedong yang lebih nyaman agar Si Kecil bisa tidur lebih tenang di artikel ini. Buibu, baca sampai selesai ya!
DAFTAR ISI
Manfaat Membedong Bayi dengan Teknik yang Tepat
Pada dasarnya, tidak ada satu metode bedong yang paling baik untuk semua bayi. Sebagian bayi lebih nyaman dengan posisi tangan di samping tubuh, sementara sebagian lainnya lebih tenang dengan posisi hands-up. Yang terpenting adalah memilih posisi yang membuat Si Kecil nyaman sekaligus tetap mengikuti prinsip safe swaddling.
Jika dilakukan dengan benar, membedong dapat memberikan beberapa manfaat, seperti:
- Membantu bayi merasa lebih tenang pada minggu-minggu pertama setelah lahir.
- Mengurangi gangguan tidur akibat refleks Moro (startle reflex) yang masih sering muncul.
- Memberikan rasa hangat dan aman sehingga bayi lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan di luar rahim.
AAP juga menegaskan bahwa bedong hanya aman digunakan pada bayi yang belum dapat berguling dan harus selalu disertai posisi tidur telentang di atas kasur yang datar tanpa bantal, guling, maupun selimut tebal (AAP, 2026).
Menjaga Kesehatan Pinggul dan Mendukung Perkembangan Motorik Bayi
Selain membantu bayi merasa nyaman, Cara membedong bayi yang benar juga penting untuk menjaga kesehatan sendi panggul. Karena itu, bagian kaki dan pinggul tidak boleh dibedong terlalu rapat.
Teknik ini dikenal sebagai hip-healthy swaddling, yaitu membedong dengan memberikan ruang agar kedua kaki bayi tetap bisa menekuk dan bergerak secara alami. Posisi ini membantu mendukung perkembangan sendi panggul serta mengurangi risiko developmental dysplasia of the hip (DDH), yaitu gangguan perkembangan sendi panggul pada bayi (International Hip Dysplasia Institute, n.d.).
Agar tetap aman, pastikan setelah dibedong Si Kecil masih bisa:
- Menekuk lutut ke arah perut.
- Menggerakkan kedua kaki ke kanan dan kiri.
- Membuka paha secara alami tanpa terasa terjepit kain.
Mommy juga perlu menghentikan penggunaan bedong ketika Si Kecil mulai menunjukkan tanda-tanda bisa berguling, yang umumnya terjadi pada usia sekitar 2-4 bulan. Pada tahap ini, bayi membutuhkan ruang gerak yang lebih bebas untuk melatih kekuatan otot, koordinasi tubuh, dan kemampuan motoriknya.
Setelah tidak lagi dibedong, Si Kecil akan semakin aktif digendong saat beraktivitas bersama Mommy maupun Ayah. Nah, agar posisi tubuh bayi tetap nyaman sekaligus mendukung perkembangan tulang belakang dan panggulnya, pastikan Mommy juga menggunakan teknik menggendong yang tepat. Yuk, baca artikel “4 Posisi Gendongan Bayi yang Benar agar Si Kecil Tenang dan Tidak Rewel” untuk mengetahui posisi gendong yang aman, nyaman, dan sesuai dengan tahap tumbuh kembang bayi.
5 Cara Membedong Bayi yang Benar dengan Metode Hands-Up
Tidak perlu khawatir jika Mommy baru pertama kali mencoba metode hands-up. Langkah-langkah berikut mudah dilakukan di rumah dan tetap mengikuti prinsip bedong yang aman untuk bayi.
1. Gunakan Kain Bedong yang Lembut dan Ukurannya Pas
Pilih kain bedong berbahan katun yang lembut, ringan, dan memiliki sedikit elastisitas agar bayi tidak mudah kepanasan. Bentangkan kain, lalu lipat sedikit bagian atasnya sebelum meletakkan bayi dengan posisi bahu sejajar lipatan tersebut. Pastikan kain tidak menutupi leher atau wajah agar hidung Si Kecil tetap bernapas dengan lega (Moon et al., 2022).
2. Biarkan Tangan Bayi Tetap di Dekat Wajah
Berbeda dengan bedong konvensional, metode hands-up mempertahankan posisi tangan bayi tetap menekuk secara alami di dekat dada atau pipinya.
Beberapa manfaat posisi ini antara lain:
- membantu bayi merasa lebih tenang karena menyerupai posisi saat berada di dalam rahim,
- memberi kesempatan bayi melakukan self-soothing, yaitu menenangkan diri dengan menyentuh wajah atau mengisap jari,
- mengurangi kemungkinan bayi berontak saat dibedong.
3. Bungkus Tubuh Bayi dengan Pas, Jangan Terlalu Ketat
Setelah posisi tangan Si Kecil sudah nyaman di dekat wajah, Mommy bisa mulai membungkus tubuhnya secara perlahan. Bedong sebaiknya terasa pas sehingga memberikan sensasi hangat seperti dipeluk, tetapi tidak sampai menekan dada atau membatasi gerakan bayi saat bernapas.
Agar bedong tetap aman, pastikan beberapa hal berikut:
- Masih ada ruang sekitar dua jari di antara kain bedong dan dada bayi.
- Dada bayi tetap dapat bergerak naik turun dengan bebas saat bernapas.
- Kain tidak menutupi wajah, hidung, maupun mulut sehingga jalan napas tetap terbuka.
- Bayi tampak nyaman dan tidak menunjukkan tanda-tanda kesulitan bernapas.
4. Rapikan Kain Bedong agar Tetap Aman
Setelah kedua sisi kain membungkus tubuh bayi, rapikan sisa kain dengan menyelipkannya di bagian belakang atau bawah tubuh Si Kecil. Cara ini membantu bedong tetap rapi dan tidak mudah terbuka ketika bayi bergerak.
Namun, hindari menarik atau mengikat kain terlalu kuat. Bedong yang terlalu kencang justru dapat membuat bayi merasa tidak nyaman dan menghambat gerakan alaminya. Sebaliknya, bedong yang terlalu longgar juga perlu dihindari karena kain berisiko terlepas dan menutupi wajah bayi saat tidur.
5. Pastikan Pinggul dan Kaki Tetap Bebas Bergerak
Meski bagian tubuh atas dibedong, area pinggul dan kaki harus tetap longgar. Teknik ini dikenal sebagai hip-healthy swaddling, yaitu cara membedong yang mendukung perkembangan sendi panggul bayi tetap optimal.
Idealnya, setelah dibedong Si Kecil masih bisa:
- Menekuk kedua lutut ke arah perut.
- Menggerakkan kaki ke kanan dan kiri secara alami.
- Membuka paha tanpa terasa terjepit oleh kain bedong.
Memberikan ruang gerak pada area pinggul dapat membantu mengurangi risiko developmental dysplasia of the hip (DDH), yaitu gangguan perkembangan sendi panggul yang dapat terjadi apabila kaki bayi terlalu sering diposisikan lurus dan terikat rapat dalam waktu lama (International Hip Dysplasia Institute, n.d.).

Posisi Tangan Bayi Saat Dibedong Tidak Harus Selalu Lurus
Setiap bayi memiliki kenyamanan yang berbeda saat dibedong. Sebagian bayi justru lebih nyaman tidur dengan tangan menekuk di dekat wajah (hands-up position) karena posisi ini memungkinkan mereka menyentuh pipi atau mulut sebagai bagian dari self-soothing, yaitu cara alami bayi menenangkan diri (Moon et al., 2022).
Sebaliknya, jika cara membedong bayi dilakukan terlalu ketat dengan kedua tangan dipaksa lurus ke bawah, sebagian bayi dapat merasa tidak nyaman, berusaha mengeluarkan tangannya, atau menangis karena ruang geraknya menjadi lebih terbatas. Hal inilah yang sering menjadi penyebab bayi tidak mau dibedong.
AAP menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa posisi tangan tertentu saat dibedong dapat memengaruhi risiko Sudden Infant Death Syndrome (SIDS). Karena itu, posisi tangan dapat disesuaikan dengan kenyamanan Si Kecil, selama praktik bedong tetap dilakukan dengan aman, yaitu:
- Bedong tidak terlalu ketat, terutama pada area dada, pinggul, dan lutut.
- Bayi selalu tidur dalam posisi telentang.
- Bedong dihentikan ketika bayi mulai menunjukkan tanda akan berguling, umumnya pada usia sekitar 2-4 bulan (Moon et al., 2022).
Kesimpulan
Cara membedong bayi yang benar tidak hanya membantu Si Kecil tidur lebih nyenyak, tetapi juga membuatnya merasa aman dan nyaman selama beradaptasi dengan dunia di luar rahim. Jika bayi tidak nyaman dengan bedong konvensional, Mommy bisa mencoba metode hands-up selama teknik membedong tetap dilakukan dengan aman, tidak terlalu ketat, dan tetap memberi ruang bagi pinggul serta kaki untuk bergerak bebas.
Yang tidak kalah penting, selalu posisikan bayi tidur telentang dan hentikan penggunaan bedong ketika Si Kecil mulai menunjukkan tanda-tanda bisa berguling agar tidurnya tetap aman. Ingat ya, Mommy, setiap bayi memiliki preferensi yang berbeda. Jadi, tidak masalah memilih metode bedong yang paling sesuai dengan kenyamanan Si Kecil, selama tetap mengikuti prinsip safe swaddling.
Semoga panduan ini membantu Mommy menemukan cara membedong yang paling nyaman untuk Si Kecil. Jangan lupa bagikan artikel ini kepada sesama orang tua agar semakin banyak bayi yang bisa tidur lebih nyenyak dan nyaman sejak hari-hari pertamanya.
Sumber
- American Academy of Pediatrics. (2026). How to keep your sleeping baby safe: AAP policy explained. HealthyChildren.org. https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/sleep/Pages/a-parents-guide-to-safe-sleep.aspx
- International Hip Dysplasia Institute. (n.d.). Infant & child – hip-healthy swaddling. https://hipdysplasia.org/infant-child/hip-healthy-swaddling/
- Moon, R. Y., Carlin, R. F., Hand, I., & TASK FORCE ON SUDDEN INFANT DEATH SYNDROME AND THE COMMITTEE ON FETUS AND NEWBORN (2022). Sleep-Related Infant Deaths: Updated 2022 Recommendations for Reducing Infant Deaths in the Sleep Environment. Pediatrics, 150(1), e2022057990. https://doi.org/10.1542/peds.2022-057990
Artikel Terkait
Mommin
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.









