Zat Kimia Ditemukan dalam ASI, Apakah Berbahaya bagi Bayi?

Momuung.com – ASI (Air Susu Ibu) merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi sejak lahir. Selain memenuhi kebutuhan gizi harian, ASI eksklusif dalam konteks kehamilan dan menyusui | Mom Uung" class="glossary-link">ASI eksklusif juga mengandung antibodi, hormon, enzim, serta berbagai zat bioaktif yang berperan penting dalam mendukung sistem imun, perkembangan otak, dan tumbuh kembang bayi secara optimal.
Karena manfaatnya yang sangat besar, World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan, kemudian dilanjutkan hingga usia 2 tahun atau lebih dengan makanan pendamping ASI (MPASI).
Di balik berbagai manfaat ASI, sebuah penelitian terbaru menemukan adanya jejak beberapa bahan kimia lingkungan di dalam sampel ASI. Temuan ini tentu membuat banyak ibu menyusui bertanya-tanya, apakah ASI eksklusif masih aman diberikan kepada bayi?
Benarkah Ada Zat kimia dalam ASI?
Dalam penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti di Italia, sebanyak 336 pasangan ibu dan bayi diikuti sejak bayi berusia 1 bulan hingga 6 bulan. Peneliti menganalisis sampel ASI dan urine untuk melihat apakah terdapat paparan berbagai bahan kimia yang dikenal sebagai Endocrine Disrupting Chemicals (EDCs) atau zat pengganggu hormon.
Endocrine Disrupting Chemicals (EDCs) adalah kelompok bahan kimia yang diduga dapat mengganggu sistem hormon di dalam tubuh. Paparan bahan kimia ini dapat berasal dari berbagai sumber di sekitar kita, mulai dari plastik kemasan makanan, produk perawatan tubuh, hingga polusi udara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis EDC ditemukan dalam ASI maupun urine bayi, meskipun kadarnya berbeda-beda pada setiap individu.
Jenis Zat Kimia yang Paling Banyak Ditemukan
Beberapa bahan kimia yang paling sering ditemukan antara lain:
DAFTAR ISI
- Bisphenol A (BPA)
- Bisphenol S (BPS)
- Phthalates
- Paraben
- Hidrokarbon Aromatik Polisiklik (Polycyclic Aromatic Hydrocarbons/PAHs)
- Mengapa Peneliti Khawatir terhadap Paparan Bahan Kimia Ini?
- Studi Lain Menemukan Hasil yang Serupa
- Apakah ASI Eksklusif Masih Aman Diberikan?
- Cara Mengurangi Paparan Bahan Kimia Selama Masa Menyusui
- Kesimpulan
1. Bisphenol A (BPA)
BPA merupakan bahan kimia yang banyak digunakan pada:
- Wadah makanan dan minuman berbahan plastik,
- Lapisan kaleng makanan,
- Hingga kertas struk belanja.
Dalam penelitian tersebut, BPA ditemukan pada sekitar setengah sampel ASI yang diperiksa.
Menarikanya, kadar BPA pada urine bayi juga meningkat seiring bertambahnya usia. Hal ini menunjukkan bahwa paparan BPA tidak hanya berasal dari ASI, tetapi juga kemungkinan berasal dari lingkungan sekitar bayi.
2. Bisphenol S (BPS)
Karena BPA mulai banyak dibatasi penggunaannya, banyak produsen beralih menggunakan Bisphenol S (BPS) sebagai penggantinya.
Sayangnya, penelitian menunjukkan bahwa BPS juga memiliki potensi mengganggu sistem hormon, sehingga penggunaannya masih terus diteliti.
3. Phthalates
Phthalates adalah kelompok bahan kimia yang digunakan untuk membuat plastik menjadi lebih lentur, kuat, dan tidak mudah pecah. Selain itu, bahan ini juga sering digunakan sebagai pelarut atau penstabil aroma pada berbagai produk sehari-hari.
Phthalates dapat ditemukan pada:
- Plastik kemasan makanan dan minuman.
- Wadah atau kemasan berbahan plastik tertentu.
- Tirai mandi dan beberapa perlengkapan rumah tangga berbahan PVC.
- Mainan tertentu, terutama produk yang tidak bebas phthalates.
- Produk perawatan tubuh, seperti parfum, lotion, sampo, cat kuku, dan beberapa jenis kosmetik.
Paparan phthalates dapat terjadi melalui beberapa cara, misalnya:
- Mengonsumsi makanan atau minuman yang bersentuhan dengan kemasan plastik tertentu.
- Menghirup udara atau debu di dalam ruangan yang mengandung phthalates.
- Menggunakan produk perawatan tubuh atau kosmetik yang masih mengandung bahan tersebut.
Dalam penelitian ini, lebih dari 90% sampel ASI yang diambil pada satu bulan setelah persalinan mengandung jejak phthalates. Peneliti juga menemukan bahwa kadar metabolit phthalates dalam urine bayi meningkat seiring bertambahnya usia. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa paparan phthalates dalam jumlah tinggi dan berlangsung terus-menerus diduga dapat memengaruhi sistem hormon (endocrine system), perkembangan organ reproduksi, serta metabolisme anak. Namun, hingga saat ini para peneliti masih terus mempelajari besarnya dampak paparan tersebut terhadap kesehatan jangka panjang.
4. Paraben
Paraben adalah kelompok bahan kimia yang berfungsi sebagai pengawet (preservative). Bahan ini digunakan untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur sehingga produk memiliki masa simpan yang lebih lama.
Paraben sering ditemukan pada berbagai produk perawatan sehari-hari, seperti:
- Lotion dan pelembap tubuh.
- Sampo dan kondisioner.
- Sabun mandi.
- Kosmetik, seperti foundation, lipstik, dan maskara.
- Produk skincare, misalnya krim wajah, serum, dan sunscreen.
- Beberapa produk farmasi atau obat oles.
Paparan paraben dapat terjadi melalui:
- Penggunaan produk perawatan tubuh atau kosmetik yang dioleskan langsung ke kulit.
- Penyerapan melalui kulit, kemudian masuk ke dalam aliran darah dalam jumlah kecil.
- Penggunaan produk secara berulang dalam jangka waktu yang lama.
Dalam penelitian ini, paraben cukup sering terdeteksi pada sampel ibu maupun bayi. Peneliti juga menemukan bahwa kadar paraben pada urine bayi cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan paraben dalam jumlah tinggi diduga dapat memengaruhi sistem hormon (endocrine system) karena memiliki aktivitas yang menyerupai hormon estrogen. Namun, hingga saat ini para peneliti masih terus mempelajari apakah paparan dalam kadar rendah yang umum ditemukan sehari-hari dapat memberikan dampak kesehatan jangka panjang, terutama pada bayi dan anak-anak yang sedang berada dalam masa pertumbuhan.
5. Hidrokarbon Aromatik Polisiklik (Polycyclic Aromatic Hydrocarbons/PAHs)
Selain BPA, phthalates, dan paraben, peneliti juga menemukan paparan Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs). PAHs merupakan kelompok senyawa kimia yang terbentuk ketika bahan organik, seperti bensin, kayu, batu bara, atau sampah, mengalami pembakaran yang tidak sempurna.
Paparan PAHs dalam kehidupan sehari-hari dapat berasal dari:
- Asap kendaraan bermotor.
- Asap rokok, baik sebagai perokok aktif maupun perokok pasif.
- Asap hasil pembakaran sampah atau kayu bakar.
- Polusi udara, terutama di daerah dengan lalu lintas atau aktivitas industri yang tinggi.
- Makanan yang dipanggang atau dibakar pada suhu sangat tinggi hingga gosong.
Menariknya, dalam penelitian ini PAHs hanya sedikit ditemukan pada sampel ASI, tetapi cukup sering terdeteksi pada urine bayi. Hal ini menunjukkan bahwa bayi kemungkinan tidak hanya terpapar melalui ASI, tetapi juga dari lingkungan sekitar, seperti udara yang dihirup atau paparan setelah lahir.
Mengapa Peneliti Khawatir terhadap Paparan Bahan Kimia Ini?
Masa bayi merupakan salah satu periode paling penting dalam tumbuh kembang anak. Pada masa ini, berbagai organ tubuh berkembang sangat cepat sehingga lebih sensitif terhadap berbagai paparan dari lingkungan.
Organ dan sistem tubuh yang sedang berkembang pesat meliputi:
- Otak dan sistem saraf.
- Sistem hormon (endocrine system).
- Sistem metabolisme.
- Organ reproduksi.
- Sistem kekebalan tubuh.
Karena proses perkembangan masih berlangsung, para peneliti khawatir bahwa paparan bahan kimia pengganggu hormon (Endocrine Disrupting Chemicals/EDCs) dalam jumlah tinggi atau terjadi terus-menerus dapat memengaruhi proses tersebut.
Beberapa penelitian sebelumnya mengaitkan paparan EDC dengan peningkatan risiko:
- Gangguan keseimbangan hormon.
- Perubahan pola pertumbuhan dan berat badan.
- Gangguan metabolisme.
- Perubahan perkembangan otak dan fungsi kognitif.
- Gangguan perkembangan sistem reproduksi pada kemudian hari.
Namun, penting dipahami bahwa temuan ini menunjukkan adanya hubungan (association), bukan hubungan sebab-akibat (causation). Artinya, bayi yang terpapar EDC tidak serta-merta pasti mengalami gangguan kesehatan. Para ilmuwan masih terus meneliti besarnya pengaruh paparan tersebut terhadap kesehatan jangka panjang
Studi Lain Menemukan Hasil yang Serupa
Temuan dari Italia juga diperkuat oleh penelitian lain yang dilakukan di Seattle, Amerika Serikat.
Dalam penelitian terhadap 50 ibu menyusui, sekitar 92% sampel ASI mengandung setidaknya satu jenis bahan kimia yang diduga dapat mengganggu sistem hormon (endocrine-disrupting chemicals).
Selain BPA, phthalates, dan paraben, peneliti juga menemukan paparan:
• PFAS (Per- and Polyfluoroalkyl Substances)
PFAS sering dijuluki sebagai “forever chemicals” karena sangat sulit terurai, baik di lingkungan maupun di dalam tubuh manusia.
Bahan ini banyak ditemukan pada:
- Kemasan makanan tahan minyak.
- Wajan antilengket.
- Kain atau pakaian tahan air.
- Beberapa jenis karpet dan furnitur.
• Flame Retardants
Flame retardants merupakan bahan kimia yang digunakan untuk memperlambat penyebaran api pada berbagai produk rumah tangga.
Bahan ini dapat ditemukan pada:
- Sofa dan kasur.
- Karpet.
- Peralatan elektronik.
- Bahan bangunan tertentu.
Meskipun sebagian besar kadar bahan kimia tersebut masih berada di bawah ambang batas keamanan yang ditetapkan WHO, para peneliti menilai bahwa paparan dari berbagai bahan kimia secara bersamaan (chemical mixture exposure) masih perlu diteliti lebih lanjut, terutama pada bayi yang sedang berada dalam masa pertumbuhan yang sangat cepat.
Apakah ASI Eksklusif Masih Aman Diberikan?
Jawabannya, ya. Mommy tetap dianjurkan memberikan ASI eksklusif sesuai rekomendasi WHO.
Meskipun penelitian menemukan adanya jejak beberapa bahan kimia dalam ASI, para peneliti menegaskan bahwa manfaat ASI masih jauh lebih besar dibandingkan potensi risiko yang ditemukan.
Meskipun ditemukan jejak beberapa bahan kimia pada ASI, para peneliti tidak menyarankan ibu untuk berhenti menyusui. Hingga saat ini, manfaat ASI bagi tumbuh kembang bayi tetap jauh lebih besar dibandingkan potensi risiko dari paparan bahan kimia yang ditemukan dalam penelitian tersebut.
Hingga saat ini, ASI tetap menjadi sumber nutrisi terbaik bagi bayi karena mampu:
- Memenuhi kebutuhan nutrisi sesuai usia bayi.
- Mengandung antibodi yang membantu melindungi bayi dari infeksi.
- Mendukung perkembangan otak dan sistem saraf.
- Membantu pembentukan sistem imun.
- Menurunkan risiko berbagai penyakit pada bayi maupun ibu.
- Memperkuat bonding antara ibu dan bayi selama proses menyusui.
Jadi, penelitian ini bukan bertujuan membuat Mommy takut menyusui, melainkan menjadi pengingat bahwa kita semua perlu lebih peduli terhadap paparan bahan kimia di lingkungan sekitar. Dengan mengurangi paparan dari produk sehari-hari dan tetap melanjutkan pemberian ASI, Mommy tetap dapat memberikan manfaat terbaik untuk kesehatan dan tumbuh kembang Si Kecil.
Dengan kata lain, yang perlu dikurangi adalah paparan bahan kimianya, bukan menyusuinya. Jadi, Mommy tidak perlu panik ya. Tetap semangat memberikan ASI sambil mulai menerapkan kebiasaan sederhana untuk meminimalkan paparan bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari.
Cara Mengurangi Paparan Bahan Kimia Selama Masa Menyusui
Meskipun tidak mungkin menghindari paparan bahan kimia sepenuhnya, Mommy dapat mengurangi risikonya dengan beberapa langkah sederhana berikut.
- Mengurangi penggunaan wadah plastik, terutama untuk makanan atau minuman panas.
- Memilih wadah berbahan kaca atau stainless steel bila memungkinkan.
- Tidak memanaskan makanan menggunakan wadah plastik di microwave.
- Memilih produk perawatan tubuh yang berlabel bebas BPA, phthalates, dan paraben bila tersedia.
- Menghindari paparan asap rokok dan sebisa mungkin mengurangi paparan polusi udara.
- Mencuci tangan setelah memegang struk belanja yang masih menggunakan BPA.
- Memperbanyak konsumsi makanan segar dibandingkan makanan ultra-proses atau makanan yang dikemas dalam plastik dalam waktu lama.
- Menghindari makanan yang dibakar hingga gosong karena dapat meningkatkan pembentukan PAHs.
Langkah-langkah sederhana ini memang tidak dapat menghilangkan paparan sepenuhnya, tetapi dapat membantu mengurangi jumlah bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh ibu maupun bayi dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan
Penelitian terbaru memang menemukan adanya jejak beberapa bahan kimia lingkungan, seperti BPA, BPS, phthalates, paraben, dan PAHs pada ASI maupun urine bayi. Namun, hingga saat ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa temuan tersebut menjadi alasan untuk menghentikan ASI eksklusif.
Para ahli tetap menegaskan bahwa ASI merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi, dengan manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan potensi risiko paparan bahan kimia yang masih terus diteliti. Karena itu, Mommy tetap dianjurkan memberikan ASI eksklusif, sambil mulai menerapkan kebiasaan sederhana untuk mengurangi paparan bahan kimia dari lingkungan sehari-hari.
Jika Mommy memiliki pertanyaan seputar menyusui, merasa produksi ASI belum optimal, mengalami puting lecet, bayi sulit menyusu, atau hanya ingin berbagi cerita selama menjalani perjalanan motherhood, jangan ragu berkonsultasi dengan Konselor Menyusui Mom Uung. Bersama konselor yang berpengalaman, Mommy bisa mendapatkan pendampingan, solusi yang sesuai dengan kondisi masing-masing, sekaligus dukungan agar perjalanan menyusui terasa lebih tenang dan menyenangkan.
Artikel Terkait
Mommin
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.









